Jakarta: Beberapa minggu terakhir El Nino jadi bahan obrolan di mana-mana. Ada yang bilang, air sudah krisis. Ada yang mengatakan, ini akan jadi tahun penuh kemarau.
29 Juni 2026, di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang sekaligus menjadi sosialisasi kesiap-siagaan menghadapi dampak El Nino. Kenapa ini penting? Karena forum ini menempatkan El Nino bukan lagi sebagai soal cuaca, tapi soal ekonomi dan ketahanan daerah.
Ini adalah pernyataan dari Menteri Dalam Negeri. "Saya minta seluruh kepala daerah segera menggelar rapat koordinasi bersama BPPD, Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, dan perangkat daerah guna memperkuat kesiap-siagaan berdasarkan data yang telah disampaikan (0:48) BMKG, BNPB, Kementan, serta Kementerian PU".
Forum 29 Juni ini bukan sekedar presentasi data. Ini adalah kalimat yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri sebagai sebuah instruksi. Dan pemerintah juga meminta para gubernur mengkoordinasikan langkah itu bersama Bupati dan Wali Kota agar mitigasi berjalan terpadu sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
Menurutnya, El Nino ini berdampak dua. Satu adalah dampak kemungkinan kebakaran hutan dan lahan, yang kedua adalah kekurangan air. Sebelum kebijakan itu turun ke lapangan, kita harus pastikan dulu, tidak ada kebijakan yang disusun berdasarkan klaim yang keliru.
Klaim versus fakta
Ini yang sering beredar, El Nino sama dengan kemarau panjang, ketersediaan air sudah krisis sekarang, dan Kementan tidak punya strategi konkret. Tapi ini adalah jawabannya. El Nino dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda.
Yang perlu kita waspadai adalah bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim Kemarau. Ini jawaban dari
Kepala BMKG. Kemudian juga dari Dirjen SDA Kemenpu.
Saat ini, ketersediaan air secara nasional sangat berlimpah. Di Jawa, Juli 2026, rasio ketersediaan lebih dari lima kali lipat kebutuhan. Kemudian juga dari Kementan, tiga strategi resmi berjalan, satu juta hektar sawah, irigasi, gilir air, hingga asuransi dan benih gratis.
Ini adalah bagian yang sudah menjadi langkah antisipatif fenomena hoaks yang beredar semenjak adanya isu terkait dengan El Nino. Ya, tiga koreksi itu yang paling dasar untuk dipahami adalah yang pertama.
El Nino bukan kemarau
Apa sebenarnya El Nino dan Kemarau? Ini koreksi langsung dari Kepala BMKG. El Nino itu berlangsung dari Mei 2026 hingga diperkirakan Mei 2027. Tapi satu tahun El Nino tidak berarti satu tahun kemarau. Yang paling berbahaya adalah ketika El Nino bertepatan dengan musim Kemarau. Untuk periode 2026, periode itu adalah di bulan Juli hingga Oktober. Jadi El Nino satu tahun bukan berarti kemarau satu tahun. Dan ini yang sering disalahpahami.
Untuk 2026, periode itu sekali lagi adalah di bulan Juli, prediksinya hingga Oktober dengan peluang intensitas kuat yang mencapai 98%. Ini dinyatakan oleh Kepala BMKG.
Mekanisme efek domino El Nino
Nah, ini adalah rantai yang perlu dipahami secara utuh. El Nino tidak membuat harga beras naik besok pagi. Tapi mekanismenya jelas. Air irigasi berkurang, produksi bisa turun, kemudian juga pasokan berkurang dan harga pangan berpotensi ikut naik. Tapi ada satu hal yang perlu dipantau. (Musim tanam pertama, padi yang biasanya mulai Oktober berpotensi mundur. Kalau itu terjadi efeknya bisa terasa sampai awal 2027. Tapi ini masih dalam tahap dipantau, bukan sudah terjadi.
Pangan nasional saat ini tercatat aman, dengan cadangan beras di Bulog mencapai 5 juta ton dan total ketersediaan setara dengan kebutuhan 11 bulan. Ditambah surplus di 9 komunitas pokok strategi lainnya.
Infrastruktur air nasional
Lalu bagaimana dengan air? Ini angka yang perlu kita sampaikan dari Dirjen SDA. Kemen-PU menyampaikan kekuatan infrastruktur air nasional. Ada 240 waduk dan bendungan dengan kapasitas tampung 6,68 miliar meter kubik. Ditambah 593 situ dan danau dengan kapasitas 137,22 miliar meter kubik. Serta 163,9 unit pengolahan air baku dan 10,757 unit sumbur bor yang tersebar di berbagai daerah.
Neraca air Pulau Jawa
Sebagai gambaran tambahan untuk Pulau Jawa, kebutuhan irigasi bulan Juli 599,28 juta meter kubik. Sedangkan yang tersedia 3,27 miliar meter kubik. Lebih dari 5 kali kebutuhan. Di Agustus masih hampir 5 kali kebutuhan.
Tiga Strategi Kementan
Kalau cadangan air masih kuat, pertanyaan berikutnya adalah apa strategi pertanian? Ini bagian yang paling penting dari paparan Kementan. Tiga strategi, bukan hanya nama. Masing-masing punya komponen yang bisa diverifikasi. Antisipasi, ada pompa untuk 1 juta hektare sawah. Adaptasi, ada irigasi intermiten dan sistem gilir air.
Kemudian adalah mitigasi, ada asuransi pertanian dan bantuan benih gratis bagi petani yang gagal panen. Setelah pangan dan air, ancaman berikutnya yang selalu mengintai di musim kering adalah karhutlah. Di karhutla kunci utamanya ada di mitigasi, bukan hanya pemadaman.
Itu artinya apa? Sebelum kemarau masuk, pencegahan deteksi dini dan pengolahan gambut harus sudah jalan.
Mitigasi karhutla
Tahun 2026, strategi itu diperkuat dengan operasi modifikasi cuaca, pembasahan gambut, dan satgas terpadu di daerah rawan. Kepala BNPB Suharyanto mengingatkan, jangan sampai api membesar, karena begitu api terlanjur besar, penanganannya jauh lebih sulit. Artinya apa? patroli, posko, OMC, dan masyarakat peduli api harus jalan sebelum asap sampai ke kota, bukan sesudahnya.
Risiko sekunder
Kalau mitigasi gagal, dampaknya tidak berhenti di hutan, tapi langsung masuk ke ruang nafas dan tubuh manusia. Tahapan ancaman El Nino, tidak berhenti pada air dan pangan. Sekundernya adalah karhutla. Dan langsung menyentuh keselamatan jiwa, karhutla, dan krisis kesehatan. Saat curah hujan, di bawah normal berlanjut, asap karhutla meningkatkan resiko ISPA. Di waktu yang sama, suhu tinggi berkepanjangan meningkatkan resiko heatstroke.
Itu kenapa kesiapsiagaan kesehatan daerah tidak boleh dianggap bagian tambahan, tapi bagian inti dari mitigasi. Dan kalau resiko sekundernya seperti ini sudah bisa dipetakan, sejak sekarang pertanyaannya tinggal satu, sejauh mana semua kesiapan ini. Dari air, pangan, sampai kesehatan benar-benar turun ke lapangan. Dari semua yang sudah kita lihat, satu hal yang paling penting adalah ini bukan sekedar kumpulan data.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebutnya sendiri bahwa, "kami tidak hanya bekerja secara kuratif saat api sudah menyala, tapi memperkuat aspek preventif melalui integrasi data untuk memprediksi titik rawan". Dan prinsip itu yang seharusnya berlaku untuk semua. Bukan hanya karhutla, tapi air, pangan, dan kesehatan juga.
Sumber: Redaksi Metro TV/Kemen PU