Seminar literasi keuangan. Foto: Istimewa
Literasi Keuangan Masif Dibutuhkan di Tengah Tren Cashless Anak Muda
Kautsar Widya Prabowo • 22 May 2026 21:08
Jakarta: Tingginya penggunaan layanan keuangan digital di kalangan anak muda, dinilai perlu diimbangi pemahaman finansial yang memadai. Tanpa literasi yang kuat, generasi muda khususnya mahasiswa, rentan terjebak utang konsumtif hingga investasi berisiko.
Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Andi Muhammad Yusuf, menyebut tingginya inklusi keuangan yang mencapai 80,51 persen belum sepenuhnya diiringi literasi yang memadai. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara penggunaan dan pemahaman produk keuangan.
“Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” ujar Andi, dalam seminar Literasi Keuangan bertajuk Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
Baca Juga :
Masyarakat Wajib Waspada Modus Penipuan, BRI Tegaskan Pengajuan KUR Tidak Ditawarkan secara Online
Ia menambahkan, rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus penipuan dan penyalahgunaan layanan keuangan. OJK mencatat, nilai kerugian akibat kejahatan keuangan digital telah mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Center (IASC) sepanjang November 2024 hingga Januari 2026.
Untuk itu, OJK terus mendorong penguatan literasi melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) yang dilakukan secara masif dan kolaboratif bersama industri jasa keuangan dan institusi pendidikan.

Seminar literasi keuangan. Foto: Istimewa
“Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan. Individu yang memahami cara mengelola keuangan cenderung lebih stabil secara finansial dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Sementara itu, dan Chief Editor Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, mengatakan banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan mulai berinvestasi. Namun belum sepenuhnya memahami risiko serta cara mengelola keuangan dengan baik.
“Hal ini membuat mereka adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan terhadap perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan jebakan utang,” ujar Ihsan
Ia juga menyoroti besarnya potensi generasi muda dalam ekosistem keuangan digital. Investor pasar modal domestik didominasi investor lokal hingga 99,78 persen, dengan mayoritas berusia di bawah 30 tahun. Sementara itu, jumlah investor kripto di Indonesia telah melampaui 21 juta orang.
"Kondisi ini diperparah oleh budaya YOLO dan FOMO, yang mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif, sehingga tingkat utang generasi muda di sektor fintech menjadi relatif lebih tinggi," tuturnya
Kegiatan yang didukung oleh PT Dupoin Futures, ShopeePay Indonesia, dan Bank Mandiri ini, bertujuan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, membangun sikap kritis dalam menghadapi perkembangan teknologi finansial yang semakin kompleks, dan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan Indonesia.
Adapun berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 66,46 persen, sementara inklusi telah mencapai 80,51 persen. Pada kelompok usia 18–25 tahun, literasi berada di level 73,22 persen dan inklusi 89,96 persen.