Pengrajin genteng di Priangan Timur. Dokumentasi/ istimewa
Program Gentengisasi Bangkitkan Semangat Pengrajin di Priangan Timur
Silvana Febiari • 12 February 2026 19:16
Tasikmalaya: Program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto membangkitkan semangat pengrajin genteng di sejumlah daerah. Beberapa di antaranya adalah para pengrajin di daerah Priangan Timur, Jawa Barat, yang mencakup Kabupaten Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Garut, Kabupaten Pangandaran, serta Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.
Nurdin, pengrajin genteng tanah liat asal Kampung Ablok, Kelurahan Sinar Galih, Kecamatan Langensari, Kabupaten Banjar, mengatakan Gentengisasi membuat dia bersemangat lagi. Dia sangat berharap program ini menjadi kabar dari surga.
“(Semoga) Pak Presiden Prabowo mau memperhatikan pengrajin kecil yang sudah hampir punah ini. Di Langen (Kecamatan Langensari) tinggal satu-satunya saya (pengrajin) yang masih bertahan,” kata Nurdin, pada Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi, di Tasikmalaya, dikutip Kamis, 12 Februari 2026.
Dia mengaku sudah lama tidak lagi membuat genteng karena permintaan yang semakin jarang. Padahal, usaha pembuatan genteng sudah sejak lama menjadi andalan mereka untuk bertahan hidup.
Nurdin masih ingat, puncak permintaan genteng terjadi pada 2015, setelah itu permintaan terus menurun. Untuk bisa tetap menghidupi keluarga, Nurdin pun mencoba beralih membuat bata tanah.
Nurdin dan puluhan pengrajin genteng di Banjar mengaku sudah lama tidak merasakan kepedulian dari pemerintah. Menurutnya, tekad Prabowo menggerakkan program Gentengisasi merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap usaha masyarakat kecil.

Pengrajin genteng di Priangan Timur. Dokumentasi/ istimewa
Pengajar Program Pascasarjana Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Edy Suroso mengatakan Gentengisasi merupakan salah satu program strategis hasil dari visi kerakyatan Prabowo. Menurutnya, Prabowo amat jeli dalam membantu masyarakat bawah untuk bangkit.
Edy mengatakan Gentengisasi memiliki karakter ekonomi kerakyatan yang berbasis padat karya, sumber daya lokal, dan punya data tahan terhadap krisis. "Belum lagi industri genteng yang dikerjakan rakyat memiliki serapan tenaga kerja, memutar ekonomi lokal dan identitas dari kearifan lokal,” kata dia.
Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Kota Tasikmalaya, Agus Rudianto mengatakan, jika program ini ingin menyentuh pengrajin kecil, maka harus diperkuat dengan manajemen koperasi yang andal. Ia menyebut industri rakyat rentan tergulung korporasi besar, mengingat koperasi lemah secara struktural dan butuh afirmasi kebijakan pemerintah.
“Agar pengrajin genteng tanah tradisional bisa mendapat manfaat dari program Gentengisasi, maka koperasi yang menaungi pengrajin harus dikonsolidasikan. Rancang standardisasi produksi dan perlindungan regulasi,” kata Agus.
Selain itu, akses modal juga perlu dipermudah. Untuk memperluas jangkauan, dia menyarankan agar pengrajin diberi edukasi tentang digitalisasi, sehingga pemasaran produksi genteng bisa lebih mudah.