Kemenpar: Tren Positif Pariwisata Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi

Staf Khusus Kemenpar Apni Jaya Putra. Foto: dok Kemenpar.

Kemenpar: Tren Positif Pariwisata Jadi Modal Pertumbuhan Ekonomi

Husen Miftahudin • 7 August 2026 08:39

Jakarta: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai kinerja sektor pariwisata pada semester I-2026 menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
 
Staf Khusus Kemenpar Apni Jaya Putra mengatakan capaian sektor pariwisata sepanjang enam bulan pertama tahun ini menunjukkan ketahanan industri sekaligus memperkuat optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
"Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pariwisata Indonesia tetap tumbuh solid di tengah berbagai tantangan global. Ini menjadi bukti pariwisata mampu menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional," ujar Apni dalam keterangan tertulis, Jumat, 7 Agustus 2026.
 
Berdasarkan data BPS, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada semester I-2026 mencapai 7,45 juta kunjungan, meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
 
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 630,41 juta perjalanan, atau tumbuh 2,71 persen secara tahunan.
 
Selain jumlah kunjungan, rata-rata pengeluaran wisman juga meningkat menjadi USD1.313 per kunjungan atau naik 6,36 persen dibandingkan semester I-2025.
 

 

Dampak positif bagi UMKM dan industri pariwisata

 
Apni mengatakan peningkatan jumlah wisatawan dan belanja wisata memberikan dampak terhadap berbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga ekonomi kreatif.
 
"Semakin besar pengeluaran wisatawan, semakin besar pula multiplier effect yang dirasakan masyarakat, terutama pelaku UMKM dan industri pariwisata di daerah," kata Apni.
 
Menurut dia, peningkatan aktivitas wisata turut memperluas peluang usaha dan mendorong perputaran ekonomi di berbagai daerah tujuan wisata.
 
Tren positif sektor pariwisata juga tercermin dari meningkatnya tingkat hunian kamar hotel.
 
Pada semester I-2026, tingkat okupansi hotel mencapai 48,2 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 45,72 persen.
 
"Peningkatan okupansi hotel menunjukkan aktivitas pariwisata terus bergerak. Ini menjadi indikator kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan semakin membaik," ujar dia.


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Pariwisata dukung pertumbuhan ekonomi

 
Apni menilai sektor pariwisata turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pada semester I-2026 tercatat sebesar 5,29 persen.
 
Ia juga menyoroti pertumbuhan ekonomi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara yang mencapai 6,1 persen, yang menurutnya didukung oleh aktivitas sektor pariwisata.
 
"Capaian ini menunjukkan pariwisata bukan hanya menjadi sektor pendukung, tetapi telah menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kami optimistis tren positif ini akan terus berlanjut hingga akhir tahun," tutur Apni.
 
Apni berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat terus diperkuat agar sektor pariwisata semakin kompetitif, mampu menarik lebih banyak wisatawan, serta meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
 
"Momentum positif ini harus terus dijaga. Dengan kolaborasi yang kuat, pariwisata Indonesia akan semakin berdaya saing dan menjadi salah satu pilar utama menuju Indonesia Emas 2045," tutup dia.

(Husen Miftahudin)