Trump Ancam 'Penghancuran Total' di Iran, Pakar: Hanya Bluffing

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto The New York Times

Trump Ancam 'Penghancuran Total' di Iran, Pakar: Hanya Bluffing

Muhamad Marup • 14 April 2026 15:07

Jakarta: Publik kembali menyoroti ancaman 'penghancuran total' terhadap Iran yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan lalu. Hal ini terjadi setelah upaya mediasi oleh Pakistan pada Sabtu (11/4) resmi dinyatakan gagal.

Pakar Diplomasi dan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ratih Herningtyas, menilai bahwa pernyataan Trump tidak dapat dimaknai secara literal sebagai rencana aksi militer penuh. Menurutnya, Presiden AS itu hanya memberi ancaman.

"Kalau saya lihat, Trump dalam konteks Iran hari ini banyak mengeluarkan pernyataan yang sifatnya bluffing, ancaman," ujar Ratih, mengutip laman resmi UMY, Selasa, 14 April 2026.

Ia menjelaskan, ucapan Trump tersebut hanya bentuk coercive diplomacy atau diplomasi koersif yang mengandalkan tekanan psikologis dan politik. Menurutnya, keputusan sebesar penghancuran total tidak mungkin diambil tanpa pertimbangan matang.

"Dalam studi hubungan internasional, ini disebut diplomasi koersif, yaitu diplomasi melalui penekanan. Tapi belum tentu itu benar-benar akan dilakukan," jelasnya.

Faktor Penghambat

Ratih mengungkapkan, ada berbagai faktor yang akan menjadi penghambat, mulai dari kalkulasi politik hingga konsekuensi ekonomi dan posisi global AS. Menurutnya, ancaman tersebut lebih berfungsi sebagai alat tawar untuk mendorong Iran kembali ke meja perundingan, sekaligus menjaga citra dominasi Amerika di kancah internasional.

"Tetapi bluffing itu penting sebagai bargaining. Ini strategi untuk menggiring opini dan mendorong Iran masuk ke negosiasi," katanya.

Ia menilai pernyataan keras Trump juga berkaitan dengan upaya menjaga posisi tawar Amerika Serikat di tengah dinamika kekuatan global. Narasi kontrol dan dominasi tetap ingin ditampilkan, meskipun realitas di lapangan menunjukkan Iran masih memiliki daya tahan.

"AS juga harus memikirkan dampak jangka panjang terhadap eksistensinya sebagai superpower," terangnya.

Fase Ripeness Theory


Ilustrasi Pexels


Ratih menilai, tetap ada potensi eskalasi dan aksi militer terbatas. Mobilisasi pasukan yang mulai terlihat menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap Iran bisa meningkat jika tuntutan Amerika Serikat tidak terpenuhi.

Ia menambahkan, baik Amerika maupun Iran masih berada pada posisi yang sama-sama belum memenuhi kepentingannya, sehingga konflik berpotensi berlanjut. Namun, peluang negosiasi tetap terbuka, terutama ketika biaya konflik semakin besar bagi kedua pihak.

"Dalam teori konflik ada yang disebut ripeness theory , yaitu ketika dua pihak sudah tidak punya pilihan selain negosiasi karena biaya konflik semakin besar. Fase itu pasti akan datang," ucapnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)