IRGC Klaim Serang Pusat Data Oracle, UEA Tegas Bantah

Rudal Iran yang diluncurkan ke fasilitas perusahaan teknologi milik AS di UEA. Foto: Anadolu

IRGC Klaim Serang Pusat Data Oracle, UEA Tegas Bantah

Muhammad Reyhansyah • 3 April 2026 17:21

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka telah menyerang pusat data dan infrastruktur informasi milik perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Oracle, di Uni Emirat Arab (UEA). 

Menurut laporan kantor berita pemerintah IRNA yang dikutip Yeni Safak, IRGC menyatakan operasi tersebut merupakan balasan atas serangan AS dan Israel pada 1 April yang dilaporkan melukai mantan Menteri Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi dan menewaskan istrinya di kediaman mereka di Teheran.

Namun, otoritas Dubai secara tegas membantah bahwa serangan tersebut pernah terjadi.

Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Jumat, 3 April 2026, Kantor Media Dubai menyatakan bahwa laporan yang beredar tersebut adalah “rekayasa dan tidak benar”. Bantahan tersebut disampaikan tidak lama setelah media Iran mulai menyiarkan klaim tersebut.

Sejauh ini belum ada verifikasi independen terkait dugaan serangan tersebut, dan Oracle juga belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai klaim bahwa infrastruktur regionalnya menjadi target serangan.

Laporan yang saling bertentangan ini muncul di tengah konflik yang lebih luas setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, yang telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat, yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.

Bagi Turki, yang memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik erat dengan Iran dan Uni Emirat Arab, insiden ini -,baik benar terjadi maupun tidak,- menunjukkan bahaya disinformasi di tengah konflik yang sedang berlangsung. Ankara terus mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mengandalkan informasi yang telah terverifikasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)