Viral WNA Tiongkok Makan Daging Penyu, Simak Bahaya Kesehatannya

Ilustrasi: WWF Indonesia

Viral WNA Tiongkok Makan Daging Penyu, Simak Bahaya Kesehatannya

Riza Aslam Khaeron • 17 September 2026 19:00

Jakarta: Kasus warga negara asing (WNA) asal Tiongkok, Wei Shang alias Wilson Shang, yang diduga memburu dan mengonsumsi penyu sisik di Raja Ampat, Papua Barat Daya, menjadi viral di media sosial dan mendapat kecaman luas. Kepolisian menyebut dugaan peristiwa tersebut terjadi pada 8–11 September 2026 di sekitar Kepulauan Fam.

Berdasarkan video yang beredar, pelaku terlihat menggunakan speargun yang diarahkan ke bagian leher penyu hingga satwa tersebut mati saat menyelam di dalam laut. Dalam rekaman terpisah, penyu tersebut kemudian dibawa ke penginapan untuk dimasak dan dikonsumsi. Wei Shang saat ini tengah menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Sorong.

Daging kura-kura memang menjadi salah satu hidangan khas di beberapa negara, termasuk Tiongkok. Namun, berbeda dengan kura-kura darat atau air tawar tertentu, penyu laut merupakan satwa dilindungi yang ilegal untuk diburu di sedikitnya 140 negara di dunia.

Selain aspek hukum, konsumsi penyu laut juga memiliki risiko kesehatan bagi manusia karena dapat menyebabkan keracunan serius yang dikenal sebagai chelonitoxism atau chelonitoxication. Berikut penjelasannya.
 

Apa Itu Chelonitoxism?


Ilustrasi: Richard Segal/Pexels

Mengutip National Center for Biotechnology Information (NCBI), chelonitoxism merupakan bentuk keracunan makanan langka yang terjadi setelah seseorang mengonsumsi daging penyu laut yang terkontaminasi toksin. Berdasarkan informasi dari turtle-foundation.org, penyebab pasti chelonitoxism hingga kini belum sepenuhnya diketahui.

Para peneliti menduga toksin tersebut terakumulasi dalam tubuh penyu melalui rantai makanan. Salah satu kelompok senyawa yang dicurigai adalah lyngbyatoxins, yang dikaitkan dengan sianobakteri Moorena producens. Sianobakteri ini dapat tumbuh pada lamun dan rumput laut yang dikonsumsi penyu hijau, lalu menumpuk di dalam tubuh penyu tanpa menimbulkan gangguan pada satwa tersebut.

Namun, bukti mengenai peran senyawa itu masih terbatas sehingga penyebab pasti chelonitoxism belum dapat dipastikan.

Memasak daging penyu tidak menjamin toksinnya hilang, sebagaimana ditunjukkan oleh kasus-kasus keracunan yang pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan penelitian pada 2024, telah dilaporkan 62 insiden keracunan akibat konsumsi penyu yang melibatkan lebih dari 2.400 korban dan menyebabkan 420 kematian.

Gejala Keracunan setelah Makan Penyu

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala chelonitoxism umumnya dimulai dengan gangguan pada saluran pencernaan. Keluhan yang pernah dilaporkan meliputi:
  1. Nyeri perut
  2. Diare
  3. Muntah
  4. Sensasi terbakar pada mulut dan tenggorokan
  5. Dehidrasi
Namun, gejala-gejala tersebut hanyalah tahap awal. Dalam kasus yang lebih berat, keracunan dapat berkembang dari gangguan gastrointestinal menjadi gangguan sistem saraf (neurologis) serta kerusakan pada organ hati dan ginjal. Beberapa kasus chelonitoxism berakhir dengan kematian.

Anak-anak termasuk kelompok yang rentan mengalami dampak berat. Penelitian tahun 2014 menemukan bahwa kasus keracunan berat lebih dominan terjadi pada anak-anak, dengan kematian yang umumnya terjadi pada hari kedua hingga keenam setelah konsumsi.
 

Bisa Mengandung Logam Berat

Risiko konsumsi penyu tidak hanya berkaitan dengan chelonitoxism. Penyu laut juga dapat mengumpulkan unsur kimia dan logam berat berbahaya di dalam jaringan tubuhnya.

Penelitian tahun 2014 oleh David A.N. Ross dkk. menemukan keberadaan merkuri, kadmium, dan timbal pada jaringan penyu, dengan pola akumulasi yang berbeda pada otot, hati, ginjal, tulang, hingga telur. Paparan logam berat akibat konsumsi daging penyu secara rutin berpotensi menimbulkan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.
 

Belum Ada Penawar Khusus

Penanganan medis chelonitoxism menjadi tantangan karena sifat kimia dan farmakologi toksinnya belum diketahui secara pasti. Oleh karena itu, belum tersedia antidot atau penawar khusus untuk keracunan chelonitoxism.
Seluruh tindakan penanganan dilakukan secara suportif yang bertujuan untuk meredakan gejala serta mengatasi komplikasi yang dialami pasien.

Oleh sebab itu, konsumsi daging penyu tidak dapat dianggap aman meskipun telah dimasak matang atau meskipun orang lain yang turut mengonsumsinya tidak mengalami keluhan keracunan.

(Riza Aslam Khaeron)