Gedung Putih Bentuk Gugus Tugas Super Intelligence Force untuk Kaji Risiko AI

Gedung Putih membentuk Super Intelligence Force untuk mengkaji risiko dan peluang AI. (Anadolu Agency)

Gedung Putih Bentuk Gugus Tugas Super Intelligence Force untuk Kaji Risiko AI

Willy Haryono • 4 October 2026 13:08

Washington: Gedung Putih membentuk gugus tugas untuk mengkaji risiko dan peluang yang ditimbulkan kecerdasan buatan (AI) serta menelaah peran pemerintah federal dalam mengawasi teknologi yang berkembang pesat tersebut, menurut laporan Wall Street Journal pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

Gugus tugas bernama "Super Intelligence Force" itu dipimpin Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton dan diberi waktu 120 hari untuk menyusun hasil kajiannya.

Tim tersebut akan menelaah undang-undang yang berlaku serta langkah-langkah potensial yang dapat diambil Kongres. Satuan tugas juga akan bekerja sama dengan industri teknologi untuk mengidentifikasi berbagai risiko dan peluang AI.

Mandat tim mencakup penyusunan rencana untuk merespons ancaman yang ditimbulkan AI tingkat lanjut. Namun, satuan tugas tersebut juga diminta menghindari regulasi yang dapat menghambat inovasi dan persaingan.

Selain itu, tim akan mengkaji bagaimana pelanggaran keamanan, peretasan, pembobolan pembatasan model atau model jailbreak, serta insiden lain yang berkaitan dengan AI dilaporkan kepada pemerintah.

Satuan tugas tersebut juga akan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan respons pemerintah federal terhadap berbagai insiden AI dengan menggunakan kewenangan yang telah tersedia.

Pembentukan satuan tugas itu dilakukan setelah pertemuan Presiden Donald Trump dengan sejumlah pimpinan perusahaan teknologi di Gedung Putih pada Selasa. Pertemuan tersebut dihadiri antara lain Presiden OpenAI Greg Brockman, CEO Anthropic Dario Amodei, dan CEO Nvidia Jensen Huang.

Trump mengatakan para pimpinan perusahaan teknologi terbesar di Amerika Serikat telah menandatangani kesepakatan yang disebutnya sebagai komitmen "mengikat secara moral" untuk menerapkan pengendalian terhadap AI. Langkah tersebut mencakup pemantauan keamanan internal dan peninjauan independen dari pihak eksternal terhadap sistem mereka.

Trump menekankan pentingnya mempertahankan kepemimpinan Amerika Serikat dalam teknologi AI. Namun, ia lebih mendukung pengamanan yang dilakukan secara sukarela oleh industri dibandingkan regulasi pemerintah yang lebih ketat.

Baca juga: CEO Anthropic Soroti Manfaat dan Risiko AI usai Bertemu Trump di Gedung Putih

(Willy Haryono)