Potret lawas gedung Lawang Sewu tempo dulu. Dokumentasi KAI
Lawang Sewu dan Jejak 81 Tahun Perjalanan Kereta Api di Indonesia
Whisnu Mardiansyah • 28 September 2026 10:27
Semarang: Di jantung Kota Semarang, Jawa Tengah, sebuah bangunan tua berdiri kokoh di kawasan Tugu Muda. Lawang Sewu, demikian bangunan itu dikenal, bukan sekadar bangunan dengan arsitektur khas peninggalan masa kolonial.
Gedung ini memiliki kaitan erat dengan perjalanan panjang perkeretaapian di Indonesia. Sejarahnya bermula ketika perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) membangun kantor pusat administrasinya di Semarang.
Seiring waktu, fungsi Lawang Sewu mengalami sejumlah perubahan. Gedung tersebut pernah menjadi pusat kegiatan administrasi perusahaan kereta api, digunakan pada masa pendudukan Jepang, kembali berkaitan dengan pengelolaan perkeretaapian pada awal kemerdekaan, hingga akhirnya menjadi bagian dari warisan sejarah yang dilestarikan PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Lebih dari satu abad sejak pembangunannya, Lawang Sewu masih menyimpan jejak dari berbagai fase perjalanan perkeretaapian sekaligus perubahan sejarah Indonesia.
Awal Berdirinya Lawang Sewu
Kisah Lawang Sewu tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan jaringan kereta api di Pulau Jawa pada masa Hindia Belanda.
NIS tercatat sebagai perusahaan yang membangun jalur kereta api pertama di Indonesia. Jalur awal tersebut menghubungkan Semarang dengan Tanggung dan kemudian berkembang menuju wilayah Vorstenlanden, yang kini meliputi kawasan Surakarta dan Yogyakarta.
Pertumbuhan jaringan tersebut membuat aktivitas NIS semakin besar. Kantor administrasi perusahaan yang sebelumnya berada di Stasiun Samarang NIS kemudian tidak lagi mencukupi kebutuhan ruang kerja.
NIS lalu membangun kantor pusat baru di kawasan Bodjongweg, Semarang, yang lokasinya kini berada di sekitar Tugu Muda.
Pembangunan dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Perancangannya dilakukan oleh arsitek Belanda Prof Klinkhamer dan BJ Ouendag.
Setelah rampung, gedung tersebut digunakan sebagai kantor pusat administrasi NIS. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari perkembangan infrastruktur pendukung industri perkeretaapian yang terus tumbuh di Jawa.
Rancangan bangunan turut menyesuaikan kondisi iklim tropis. Galeri terbuka menjadi salah satu arsitektur dalam desainnya. Bangunan utama juga dihiasi kaca patri karya JL Schouten dari studio Prinsenhof di Delft.
Salah satu kaca patri tersebut menampilkan simbol roda terbang yang berkaitan dengan dunia perkeretaapian pada masa itu.
Mengapa Disebut Lawang Sewu?
Nama resmi bangunan ini bukan Lawang Sewu. Sebutan tersebut merupakan julukan masyarakat dalam bahasa Jawa yang berarti "seribu pintu".
Meski demikian, jumlah pintu di bangunan tersebut tidak mencapai seribu. Banyaknya pintu, bukaan, dan jendela berukuran besar membuat bangunan ini memperoleh julukan Lawang Sewu.
Nama tersebut kemudian melekat dan menjadi identitas yang sulit dipisahkan dari bangunan di kawasan Tugu Muda tersebut.
Di balik julukan itu, Lawang Sewu memiliki fungsi historis yang jauh lebih besar. Gedung ini pernah menjadi pusat administrasi NIS, perusahaan yang memainkan peran dalam perkembangan jaringan kereta api di Jawa pada masa awal pertumbuhan transportasi berbasis rel.
Karena itu, riwayat Lawang Sewu turut menjadi bagian dari sejarah awal perkeretaapian di Indonesia. Perubahan besar terjadi setelah Jepang menduduki Indonesia pada 1942.
Pengelolaan perkeretaapian beralih kepada pemerintahan pendudukan Jepang. Lawang Sewu turut diambil alih dan digunakan sebagai kantor Riyuku Sokyoku atau jawatan transportasi Jepang hingga 1945.
Pada periode tersebut, jaringan kereta api memiliki posisi penting dalam sistem transportasi. Perubahan penguasaan terhadap fasilitas perkeretaapian turut memengaruhi fungsi sejumlah bangunan yang sebelumnya digunakan oleh perusahaan-perusahaan kereta api pada masa Hindia Belanda.
Babak tersebut berakhir setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pengambilalihan fasilitas perkeretaapian dari Jepang kemudian menjadi bagian dari perjalanan awal pengelolaan kereta api oleh bangsa Indonesia. Salah satu momentum pentingnya terjadi pada 28 September 1945, ketika para pekerja kereta api mengambil alih penguasaan perkeretaapian dari Jepang.

Kesibukan di halaman Gedung Lawang Sewu sekitar tahun 1930. Dokumentasi KAI
Lawang Sewu pada Masa Awal Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan, Lawang Sewu kembali memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas perkeretaapian Republik Indonesia. Pada 1945, gedung tersebut digunakan sebagai Kantor Eksploitasi Tengah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).
Penggunaan kembali Lawang Sewu untuk kegiatan perkeretaapian berlangsung pada masa awal republik, ketika penguasaan terhadap berbagai fasilitas transportasi menjadi bagian dari upaya mempertahankan kemerdekaan.
Di Bandung, para pekerja kereta api mengambil alih kantor pusat perkeretaapian pada 28 September 1945. Beberapa hari kemudian, pada 30 September 1945, perwakilan pekerja kereta api dari sejumlah daerah menyepakati pembentukan manajemen baru yang kemudian melahirkan DKARI.
Peristiwa tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan pengelolaan perkeretaapian oleh Republik Indonesia. Lawang Sewu menjadi salah satu bangunan yang merekam periode transisi tersebut di Semarang.
Namun, penggunaan Lawang Sewu sebagai bagian dari aktivitas perkeretaapian tidak berlangsung lama. Pada 1946, gedung tersebut digunakan sebagai markas tentara Belanda.
Kegiatan perkantoran DKARI kemudian dipindahkan ke bekas kantor de Zustermaatschappijen, yang saat ini menjadi bagian dari kawasan Kantor PT KAI Daerah Operasi 4 Semarang.
Riwayat Lawang Sewu terus mengalami perubahan setelah pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada 1949, gedung tersebut digunakan Kodam IV Diponegoro. Fungsi tersebut berlangsung setelah bangunan tidak lagi digunakan untuk kegiatan administrasi perkeretaapian.
Lawang Sewu kemudian kembali berada di bawah pengelolaan perusahaan kereta api. Pada 1994, gedung tersebut diserahkan kepada Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan kelembagaan hingga terbentuknya PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Kembalinya Lawang Sewu ke lingkungan perusahaan kereta api membuka babak baru dalam upaya pelestarian bangunan bersejarah yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah perkeretaapian. PT KAI kemudian melakukan restorasi pada 2009. Purnapugar Gedung A Lawang Sewu diresmikan pada 5 Juli 2011.
Lawang Sewu Menjadi Museum
Perjalanan Lawang Sewu kemudian memasuki fase baru. Bangunan yang dahulu digunakan sebagai kantor perusahaan kereta api kini dimanfaatkan sebagai museum dan ruang edukasi.
Berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah perkeretaapian ditampilkan di dalamnya. Koleksi tersebut antara lain Alkmaar, mesin Edmondson, mesin hitung, mesin tik, replika lokomotif uap, surat berharga, serta materi yang berkaitan dengan sejarah dan proses restorasi Lawang Sewu.
Dokumentasi berupa foto dan video juga menjadi bagian dari materi yang dapat dilihat pengunjung. Selain itu, terdapat perpustakaan yang menyediakan berbagai buku mengenai kereta api.
Perubahan fungsi tersebut membuat Lawang Sewu tidak berhenti sebagai bangunan peninggalan masa lalu. Gedung ini juga menjadi tempat masyarakat mengenal perkembangan perkeretaapian Indonesia melalui koleksi dan dokumentasi sejarah.
Nilai sejarah Lawang Sewu juga tercermin melalui statusnya sebagai bangunan cagar budaya. Data Direktorat Pelindungan Kebudayaan mencatat Lawang Sewu sebagai cagar budaya tingkat kabupaten/kota di Kota Semarang berdasarkan SK Nomor 646/50/1992 tertanggal 4 Februari 1992.
Status tersebut menjadi bagian dari upaya perlindungan terhadap bangunan yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan.
Bagi sejarah perkeretaapian Indonesia, Lawang Sewu memiliki posisi tersendiri. Gedung tersebut merekam perjalanan sebuah perusahaan kereta api pada masa Hindia Belanda, perubahan pengelolaan saat pendudukan Jepang, hingga keterlibatannya dalam fase awal pengelolaan perkeretaapian oleh Republik Indonesia.
Sumber: ww.kai.id
*Pengerjaan artikel ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.