Warga Semeru Diminta Tak Beraktivitas dalam Radius 500 Meter dari Tepi Sungai

Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak pada Selasa pagi, 29 September 2026. ANTARA/HO-PVMBG

Warga Semeru Diminta Tak Beraktivitas dalam Radius 500 Meter dari Tepi Sungai

Silvana Febiari • 29 September 2026 18:10

Lumajang: Gunung Semeru hingga kini masih berstatus Level III (Siaga). Masyarakat diminta menjadikan rekomendasi keselamatan sebagai pedoman dalam beraktivitas di sekitar kawasan gunung.

Berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

"Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena terdapat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Isnugroho, dilansir dari Antara, Selasa, 29 September 2026.


Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Bagi warga Lumajang, yang terpenting bukan sekadar mendengar atau tidak mendengar dentuman, tetapi memahami bahwa Gunung Semeru masih berstatus Siaga. Aktivitas masyarakat tetap mengikuti rekomendasi keselamatan dan informasi resmi terbaru.

Masyarakat diimbau tidak panik ketika mendengar suara dentuman, tetapi juga tidak mengabaikannya. Informasi mengenai aktivitas Semeru sebaiknya diperoleh dari BPBD, Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Badan Geologi/PVMBG, serta kanal resmi pemerintah.

Masyarakat tetap dapat beraktivitas dengan tertib dengan memahami informasi dan mengikuti batas aman yang telah ditetapkan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko jika aktivitas Gunung Semeru mengalami perubahan.


Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan 900 meter di atas puncak pada Senin malam, 28 September 2026. ANTARA/HO-PVMBG


Sebelumnya, BPBD Lumajang mengimbau masyarakat tidak panik dengan suara dentuman saat Gunung Semeru erupsi. Namun, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.

Bagi warga di sekitar lereng Semeru, suara tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas vulkanik masih berlangsung dan kewaspadaan tetap diperlukan.

"Dentuman terdengar sekitar pukul 21.01 WIB dan terekam kamera CCTV milik BPBD Lumajang di Desa Supit Urang, Kecamatan Pronojiwo. Dalam rekaman tersebut, dentuman terdengar bersamaan dengan aktivitas letusan dan kepulan kolom asap di atas Kawah Jonggring Saloko," kata Isnugroho.

Erupsi Gunung Semeru disertai suara dentuman terjadi pada pukul 21.01 WIB, Senin, 28 September 2026. Namun, peristiwa tersebut tidak menimbulkan dampak dan kondisi tetap aman.

Sementara itu Koordinator Pos Pantau Curah Kobokan Sugiono mengatakan suara dentuman dari Gunung Semeru cukup intens terdengar dalam dua hingga tiga bulan terakhir.

Menurutnya, dentuman umumnya terdengar setelah aktivitas letusan mengalami jeda dalam kurun waktu tertentu. Dentuman biasanya terdengar setelah fase letusan Semeru mengalami jeda cukup lama.

Suara dentuman dapat menyertai aktivitas gunung api dan tidak selalu menandakan kondisi Gunung Semeru memburuk. Perkembangan aktivitas gunung tetap perlu mengacu pada hasil pemantauan dan evaluasi instansi berwenang.

(Silvana Febiari)