Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla di Kapuas Diperpanjang hingga 13 Oktober

Dokumentasi. Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan. ANTARA/Rendhik Andika.

Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla di Kapuas Diperpanjang hingga 13 Oktober

Silvana Febiari • 2 October 2026 16:57

Kapuas: Pemerintah Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memperkuat penanganan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Status tanggap darurat diperpanjang hingga 13 Oktober 2026.

Wakil Bupati Kapuas Dodo mengatakan perpanjangan status tersebut ditetapkan melalui rapat evaluasi di Posko Induk Karhutla BPBD Kapuas. Keputusan itu mempertimbangkan kondisi cuaca dan potensi kekeringan yang masih perlu diwaspadai.

“Status tanggap darurat bencana kekeringan dan karhutla diperpanjang hingga 13 Oktober 2026,” kata Dodo, dilansir dari Antara, Kamis, 2 September 2026. 


Menurut dia, evaluasi juga menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dalam penanganan karhutla. Koordinasi melibatkan BPBD, perangkat daerah, pemerintah kecamatan, relawan, serta unsur pelayanan masyarakat agar respons di lapangan berjalan optimal.

“Karena itu, kita perlu terus memperkuat koordinasi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi tersebut,” ujarnya.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Kapuas, diperkirakan masih rendah hingga awal November 2026.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla. Seluruh unsur terkait diminta tetap siaga dan menyesuaikan penanganan dengan kondisi cuaca serta situasi di lapangan.

Ia juga mendorong keterlibatan unsur pelayanan masyarakat, termasuk rumah sakit daerah dan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Kapuas, dalam mengantisipasi dampak kekeringan terhadap masyarakat.

Dodo mengatakan sinergi seluruh unsur diperlukan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan serta memastikan penanganan bencana berjalan efektif. Pemkab Kapuas berharap hujan segera turun sehingga risiko kekeringan dan karhutla dapat ditekan.


Petugas gabungan berjibaku memadamkan karhutla yang terjadi di Kabupaten Kapuas. ANTARA/HO-BPBD Kapuas


Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S Pandiangan mengatakan pihaknya mencatat 3.434,12 hektare lahan terbakar sepanjang Januari hingga September 2026.

Selain luasan lahan terbakar, jumlah kejadian karhutla juga cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat sebanyak 352 kejadian karhutla di wilayah Kabupaten Kapuas.

Sementara jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau mencapai 30.200 titik sepanjang periode tersebut. Dalam penanganan karhutla, pihaknya telah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan menambah 20 mesin pompa untuk mendukung pemadaman di sejumlah wilayah.

"Penambahan peralatan tersebut dilakukan menyusul hasil evaluasi yang menemukan keterbatasan mesin pompa dan selang menjadi salah satu kendala petugas dalam menangani karhutla di lapangan," tuturnya.

Ia berharap distribusi peralatan ini memperkuat kemampuan petugas menangani titik-titik kebakaran yang masih berasap dan sulit dijangkau.

(Silvana Febiari)