Kilau Harga Emas Meredup Dipicu Aksi Jual Investor

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Kilau Harga Emas Meredup Dipicu Aksi Jual Investor

Eko Nordiansyah • 8 November 2026 09:20

Chicago: Aksi jual spekulatif pada emas meningkat pesat di akhir Oktober, yang mendorong harga turun dan memutus korelasi antara logam mulia ini dengan penurunan suku bunga riil. Ini terjadi seiring dengan langkah investor non-tradisional yang melikuidasi posisi dalam jumlah besar.

Menurut data Commitment of Traders dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), kelompok Managed Money, kategori "Lainnya" (Other), dan pedagang yang tidak termasuk dalam kategori pelaporan (Non-Reportable) telah melepas posisi emas senilai USD8 miliar antara tanggal 20 Oktober hingga 27 Oktober. 

Dilansir dari Investing, Minggu, 8 November 2026, aksi jual ini menandai minggu kelima berturut-turut terjadinya arus keluar (outflow) yang bersifat bearish, dengan total akumulasi arus keluar spekulatif mencapai USD19,5 miliar sejak 22 September.

Arus keluar mingguan tersebut didorong oleh likuidasi posisi beli (long) senilai USD5,2 miliar dan pembukaan posisi jual (short) baru senilai USD2,8 miliar.

Secara kategori, aksi jual ini sebagian besar didominasi oleh kelompok "Lainnya" dan pedagang yang tidak termasuk dalam kategori pelaporan, yang mencakup sekitar 95 persen dari total arus keluar. Khusus untuk kategori "Lainnya", total likuidasi posisi beli mencapai USD4 miliar.


(Ilustrasi. Foto: Unplash)

Imbal hasil diabaikan saat dolar dan minyak menekan Harga

Likuidasi agresif ini membantu menjelaskan mengapa pergerakan harga emas cenderung lemah selama periode tersebut. Logam mulia ini turun 1,6 persen dalam rentang waktu pengamatan, seolah mengabaikan penurunan 11 basis poin pada imbal hasil riil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, sebuah pergeseran makroekonomi yang biasanya menjadi sentimen positif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding) seperti emas.

Sebaliknya, emas justru menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS sebesar 0,6 persen dan kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 4,1 persen. Para analis mencatat bahwa kekhawatiran seputar pengelolaan likuiditas negara (sovereign liquidity) serta ketahanan mata uang dolar AS kemungkinan besar memicu pembongkaran posisi oleh kelompok "Lainnya" tersebut. 

Korelasi bergulir enam bulan untuk posisi beli kotor (gross longs) kategori "Lainnya" (Other) terhadap indeks dolar (DXY) maupun kontrak minyak Brent bulan depan (front-month) menunjukkan angka negatif moderat.

Meskipun terjadi aksi jual besar-besaran, kondisi pasar tetap menantang bagi pihak yang bersikap bullish terhadap emas. Walaupun posisi bersih (net positioning) kelompok Managed Money tetap relatif rendah, posisi beli kotor kategori "Lainnya" per 27 Oktober masih berada di atas median dua tahun sehingga membuka peluang bagi likuidasi posisi beli lebih lanjut.

Kelemahan emas semakin dalam menjelang akhir bulan, dengan harga logam mulia tersebut turun 4,3 persen lagi antara tanggal 27 Oktober dan 30 Oktober. Lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 3,7 persen pada hari-hari terakhir tersebut tampak benar-benar menutupi penurunan tipis pada nilai dolar maupun imbal hasil riil (real yields).

Penurunan berkepanjangan ini memicu reaksi di pasar derivatif, di mana perubahan pada permukaan opsi (options surface) mengindikasikan adanya lindung nilai (hedging) aktif terhadap penurunan harga serta taruhan yang secara langsung bersifat bearish. 

Volatilitas tersirat (implied volatility) emas untuk tenor tiga bulan meningkat, sementara skew opsi put-call 25-delta yang dinormalisasi melonjak hingga mencapai persentil ke-85 dari rentang satu tahun terakhir.

(Eko Nordiansyah)