Microsoft: Investasi AI Harus Berorientasi pada Hasil Bisnis

General Manager, Corporate External & Legal Affairs Microsoft ASEAN Jasmine Begum (tengah). Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah

Microsoft: Investasi AI Harus Berorientasi pada Hasil Bisnis

Eko Nordiansyah • 27 October 2026 20:46

Jakarta: Investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor industri perlu berorientasi pada hasil bisnis yang ingin dicapai, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Penentuan tujuan yang jelas dan pengelolaan data menjadi faktor penting agar penerapan AI menghasilkan wawasan yang dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan organisasi.

General Manager, Corporate External & Legal Affairs Microsoft ASEAN Jasmine Begum mengatakan, perusahaan perlu memahami hasil bisnis yang ingin dicapai sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan. Pemanfaatan AI perlu diarahkan untuk menghasilkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti sehingga organisasi mampu mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan yang jelas.

“Anda tidak berinvestasi pada teknologi. Anda berinvestasi pada hasil bisnis. Untuk berinvestasi pada hasil bisnis, Anda perlu mengetahui dengan tepat tujuan yang ingin dicapai, baik untuk meningkatkan layanan publik, kualitas pendidikan, maupun layanan kesehatan,” ucap Jasmine dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.

Jasmine menjelaskan, organisasi perlu memanfaatkan data dan AI untuk menghasilkan wawasan prediktif yang dapat menjadi dasar pengambilan tindakan. Menurutnya, kemampuan mengantisipasi suatu kondisi tidak akan memberikan hasil optimal apabila organisasi tidak memiliki langkah konkret berdasarkan informasi tersebut.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Kualitas data menentukan manfaat investasi AI

Jasmine menyebut, perusahaan perlu memastikan data yang digunakan dikelola dengan baik agar dapat menghasilkan wawasan yang relevan. Banyaknya data yang dimiliki organisasi tidak otomatis menjamin kualitas keputusan apabila informasi tersebut belum diolah menjadi pemahaman yang dapat ditindaklanjuti.

“Kita ingin beralih dari antisipasi menuju wawasan ke depan dan mampu bertindak berdasarkan wawasan tersebut. Antisipasi itu bagus, tetapi tanpa tindakan atau hasil, kita perlu mengembangkannya menjadi kerangka kerja pengambilan keputusan agar dapat menghasilkan sesuatu yang baik dan bermakna,” ucapnya.

Ia mencontohkan pemanfaatan data untuk memperkirakan potensi penyebaran demam berdarah berdasarkan pola cuaca. Jika data menunjukkan kemungkinan peningkatan kasus pada periode tertentu, informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun anggaran kesehatan dan mempersiapkan langkah pencegahan sebelum risiko meningkat.

Jasmine juga menekankan pentingnya menentukan parameter yang tepat agar data dan AI dapat menghasilkan wawasan sesuai tujuan organisasi. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berhenti pada kemampuan memproses informasi, tetapi berlanjut pada tindakan yang mendukung hasil bisnis.

Selain itu, pembahasan dalam sesi tersebut menyoroti pentingnya standarisasi data dan penentuan kebutuhan organisasi sebelum memilih teknologi. Data dari berbagai entitas perlu dikelola menggunakan standar yang jelas, sementara pemilihan AI dan perangkat lunak analitik harus disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta nilai strategis yang ingin dicapai perusahaan. (Tiaranissa Juliansyah)

(Eko Nordiansyah)