Udara di kawasan IKN masih diselimuti asap karhutla (MI.Ervan Masbanjar)
Kualitas Udara di IKN Memburuk Warga Diimbau Pakai Masker
Media Indonesia • 13 October 2026 19:42
Penajam Paser Utara: Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) memantau perkembangan kualitas udara di kawasan IKN dan wilayah sekitarnya akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga pukul 17.00 Wita, mayoritas stasiun pemantau mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat.
Direktur Pelayanan Dasar Kedeputian Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Suwito, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan kondisi kesehatan, terutama kelompok rentan.
"Kami terus memantau data ISPU secara berkala di berbagai titik stasiun pemantauan untuk memastikan kesehatan dan kenyamanan masyarakat di area IKN dan kawasan penyangga sekitar," ujar Suwito, Selasa, 13 Oktober 2026.
Data pemantauan pada pukul 17.00 Wita menunjukkan kualitas udara di sejumlah lokasi berada pada kategori berbeda. Di Plaza Seremoni, nilai ISPU tercatat 85 atau masuk kategori sedang, dengan suhu 33,1 derajat Celsius dan kelembapan 73,1 persen.
Sementara itu, nilai ISPU di Wonotirto mencapai 154 atau masuk kategori tidak sehat. Suhu di wilayah tersebut tercatat 30,9 derajat Celsius dengan kelembapan 76,1 persen.
Kondisi serupa terpantau di Senipah dan Muara Jawa Tengah. Nilai ISPU di Senipah mencapai 116 dengan suhu 33,1 derajat Celsius dan kelembapan 72,6 persen. Adapun di Muara Jawa Tengah, ISPU tercatat 125, dengan suhu 31,1 derajat Celsius dan kelembapan 75,1 persen.
“Sementara itu, di area Plaza Bhinneka yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN angka ISPU masuk kategori tidak sehat dengan nilai 108, suhu mencapai 32,8 derajat Celcius , kelembaban 67,3 persen,” urainya.
Menanggapi kondisi tersebut, Suwito meminta masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan ini terutama ditujukan kepada warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan, anak-anak, dan lanjut usia.
“Kami bersama pihak terkait akan terus melakukan koordinasi dan evaluasi guna meminimalkan faktor pencemar serta memastikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat di kawasan IKN,” tegas Suwito.
Di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Tim Tanggap Karhutla Dinas Kesehatan setempat juga melaporkan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. Kesimpulan tersebut didasarkan pada hasil pengukuran konsentrasi partikulat PM2,5 dan PM10 pada pukul 12.00-14.00 Wita di empat kecamatan.

Tim gabungan lakukan pendinginan usai kebakaran di Tahura Bukit Soeharto (Dok. Humas Polda Kaltim)
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PPU, Lukasiwan Eddy Saputro, mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengukur konsentrasi partikulat di dalam dan luar ruangan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat di tengah penurunan kualitas udara.
“Dari hasil pemantauan dan analisis data rata-rata di empat kecamatan, Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku di kawasan IKN menujukan jika kualitas udara secara umum masuk dalam kategori tidak sehat,” ujar Lukas.
Hasil pengukuran rata-rata di empat kecamatan menunjukkan konsentrasi PM2,5 di dalam ruangan mencapai 57,92 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM10 di dalam ruangan tercatat 169,13 mikrogram per meter kubik. Kedua parameter tersebut dilaporkan masuk kategori tidak sehat.
Untuk pengukuran di luar ruangan, rata-rata konsentrasi PM2,5 tercatat 80,38 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, PM10 mencapai 211,54 mikrogram per meter kubik. Kedua parameter tersebut juga dinyatakan berada dalam kategori tidak sehat.
Lukasiwan mengungkapkan konsentrasi PM10 di Kecamatan Sepaku, yang berada di kawasan IKN, tercatat tinggi. Hasil pengukuran menunjukkan PM10 di dalam ruangan mencapai 281,33 mikrogram per meter kubik, sedangkan di luar ruangan tercatat 263 mikrogram per meter kubik. Data tersebut menempatkan kondisi kualitas udara di lokasi itu dalam kategori sangat tidak sehat.
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Dinkes PPU mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama pada siang hari ketika konsentrasi partikulat tinggi. Warga juga diminta mengenakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah.
“Lalu atur ventilasi rumah saat kualitas udara di luar menurun, hindari pembakaran sampah, lalu jaga kebersihan rumah meminimalkan timbulnya debu. Kami juga meminta agar masyarakat terus memantau pembaruan informasi terkait perubahan kualitas udara secara berkala,” tutupnya.