Apa Itu Riya? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

Ilustrasi freepik

Apa Itu Riya? Kenali Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

Putri Purnama Sari • 14 October 2026 05:18

Jakarta: Dalam Islam, setiap ibadah dan amal kebaikan hendaknya dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Namun, seseorang terkadang melakukan ibadah bukan semata-mata untuk mengharap rida Allah, melainkan juga demi mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain. Perbuatan inilah yang disebut riya.

Riya merupakan perilaku yang perlu dihindari oleh setiap Muslim karena dapat merusak keikhlasan dalam beribadah. Perbuatan ini juga tidak selalu mudah disadari karena berkaitan dengan niat dan keinginan yang ada di dalam hati.

Secara bahasa, riya berasal dari bahasa Arab ra'a yang berkaitan dengan makna melihat. Dalam konteks agama, riya merujuk pada perbuatan menampakkan ibadah atau amal kebaikan agar dilihat dan dipuji orang lain.

Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa memeriksa dan meluruskan niat, baik ketika menjalankan ibadah maupun melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalil tentang Riya dalam Islam

Pentingnya menjaga niat dalam beribadah dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab RA. Hadis ini tercantum dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Rasulullah SAW bersabda:

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Peringatan mengenai riya juga terdapat dalam Al-Qur'an, yakni Surah Al-Ma'un ayat 4–7. Allah SWT berfirman:

“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Ma'un: 4–7)

Ayat tersebut memberikan peringatan kepada orang-orang yang lalai dalam salat, melakukan riya, dan enggan memberikan bantuan. Pesan ini mengingatkan umat Islam agar tidak hanya memperhatikan pelaksanaan ibadah secara lahiriah, tetapi juga menjaga keikhlasan serta kepedulian terhadap sesama.

Cara Terhindar dari Riya

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan seorang Muslim untuk menjaga keikhlasan dan menghindari riya.

1. Meluruskan Niat karena Allah SWT

Sebelum melakukan ibadah atau amal kebaikan, seorang Muslim perlu menata niat agar perbuatannya ditujukan untuk mengharap rida Allah SWT.

Meluruskan niat bukan hanya dilakukan sebelum beribadah, tetapi juga perlu dijaga selama menjalankan amalan. Jika muncul keinginan untuk dipuji atau mendapat pengakuan, seseorang dapat melakukan introspeksi dan kembali mengingat tujuan awal ibadahnya.

2. Menjaga Kerahasiaan Ibadah dan Amal Kebaikan

Salah satu cara menjaga keikhlasan adalah tidak selalu menampilkan ibadah dan amal kebaikan kepada orang lain, terutama jika tidak ada kebutuhan untuk menunjukkannya.

Dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah SWT pada hari kiamat, Rasulullah SAW menyebutkan salah satunya adalah orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang tersebut bersedekah hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam bersedekah. Meski demikian, memperlihatkan amal kebaikan untuk tujuan yang baik, seperti mengajak orang lain bersedekah, tidak otomatis termasuk riya selama niatnya tetap dijaga.
  3. Membaca Doa agar Terhindar dari Syirik Kecil

Umat Islam dapat memohon pertolongan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari riya dan perbuatan syirik yang disadari maupun tidak disadari. Salah satu doa yang dapat dibaca adalah:



Allahumma inni a'udzu bika an usyrika bika wa ana a'lamu, wa astaghfiruka lima la a'lamu.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”

Doa tersebut diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari RA dan dapat ditemukan dalam sejumlah kitab hadis, termasuk Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari.

4. Membiasakan Introspeksi Diri

Selain meluruskan niat dan berdoa, seorang Muslim perlu membiasakan diri mengevaluasi tujuan di balik setiap amal yang dilakukan.

Introspeksi dapat dilakukan dengan bertanya kepada diri sendiri apakah suatu ibadah dilakukan karena Allah SWT atau karena ingin mendapatkan pujian manusia. Kebiasaan ini membantu seseorang lebih berhati-hati dalam menjaga keikhlasan.

(Reswara Vittorio)

(Putri Purnama Sari)