Kemenkes: Gangguan Jiwa jadi Penyebab Kedua Penurunan Kualitas Hidup

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi (kiri). Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Kemenkes: Gangguan Jiwa jadi Penyebab Kedua Penurunan Kualitas Hidup

Metro TV • 11 October 2026 12:13

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan pentingnya perhatian menyeluruh terhadap isu kesehatan mental di Indonesia. Berdasarkan data evaluasi kesehatan terbaru, dampak dari gangguan jiwa berbanding lurus terhadap penurunan kualitas hidup harian masyarakat di berbagai kelompok umur.

“Kami laporkan dari data-data kita, gangguan jiwa menjadi penyebab kedua years lived with disability. Jadi beban untuk kualitas hidup yang baik dari masalah kesehatan jiwa ini nomor dua,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026.
 


Endang menjelaskan, masalah kesehatan mental telah merambah kelompok usia produktif mulai dari remaja hingga dewasa muda. Terdapat tiga jenis gangguan jiwa yang mendominasi porsi kasus di tengah masyarakat saat ini.

“Dengan tiga jenis tertinggi adalah depresi, gangguan cemas, dan skizofrenia. Selain itu, gangguan jiwa menjadi penyebab beban kesehatan pada seluruh kelompok usia dan menempati tiga besar pada kelompok usia mulai dari remaja hingga dewasa,” terang Endang.

Di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan medis, Indonesia masih dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia di bidang kesehatan jiwa. Rasio antara jumlah dokter spesialis jiwa dan populasi penduduk masih jauh dari standar WHO.

“Jumlah tenaga kesehatan di bidang kesehatan jiwa dan disabilitas di Indonesia masih perlu pemenuhan. Sistem kita, SISDMK 1 September 2026 itu menunjukkan bahwa kita baru memiliki 1.495 psikiater. Kalau dibagi 280 juta penduduk, itu 1/180.000, padahal WHO mintanya 1/30.000,” jelas Endang.


Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Deteksi Dini lewat Program CKG

Guna mendeteksi potensi masalah lebih awal, Kemenkes memperluas jangkauan deteksi dini di tingkat pelayanan dasar melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Puluhan juta warga tercatat telah menjalani pemeriksaan awal untuk memetakan kondisi kesehatan mental mereka.

“Kita juga sedang memasukkan skrining kesehatan jiwa pada CKG dan pada pelayanan ibu hamil dan ibu nifas. Dan kita sudah men-skrining 71,8 juta penduduk dengan hasil 1,2% dugaan gejala depresi serta 0,9% gejala kecemasan,” ungkap Endang.

Sebagai bentuk komitmen memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan jiwa, Kemenkes juga meluncurkan buku saku sebagai rujukan praktis bagi para petugas kesehatan di lapangan.

“Pada kesempatan hari ini juga akan dilakukan launching buku saku Skrining Kesehatan Jiwa seri Ibu Hamil dan Pasca Persalinan, Anak dan Remaja, Dewasa dan Lansia, sebagai panduan praktis bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan,” ujar Endang.

Langkah ini dirancang guna mengatasi kegamangan tenaga kesehatan saat menemukan indikasi masalah mental pada pasien di fasilitas kesehatan dasar.

“Kami laporkan setelah CKG kita ketemu banyak masalah kesehatan jiwa tapi tenaga kesehatannya masih gamang, kalau sudah ketemu harus bagaimana. Jadi kita buatkan ada empat buku dari Direktorat Kesehatan Kelompok Rentan menyiapkan bersama teman-teman semuanya di sini, para ahli tentunya dari berbagai organisasi profesi terlibat,” kata Endang.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Fachri Audhia Hafiez)