Kerja sama studi Pertamina dengan Yachiyo Engineering Co., Ltd. dan Atomis Inc. untuk mengkaji potensi teknologi penyimpanan dan distribusi gas berbasis MOF. Foto: dok Pertamina.
Pertamina Gandeng Jepang Kaji Teknologi Penyimpanan Gas Tanpa Jaringan Pipa
Husen Miftahudin • 27 October 2026 10:44
Jakarta: PT Pertamina (Persero) menjalin kerja sama studi dengan Yachiyo Engineering Co., Ltd. dan Atomis Inc. untuk mengkaji potensi teknologi penyimpanan dan distribusi gas berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF). Kajian ini ditujukan untuk mengevaluasi peluang pemanfaatan sumber daya gas domestik dan memperluas akses energi bagi masyarakat Indonesia.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam Joint Study Agreement (JSA) yang ditandatangani pada 23 Oktober 2026 oleh SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Representative Director & CEO Atomis Daisuke Asari, serta Director & Executive Officer sekaligus Head of the Business Development Division Yachiyo Engineering Kenjiro Yamanaka.
Penandatanganan disaksikan perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Koordinator Keselamatan Hilir Migas Yuki Haidir, serta Duta Besar Jepang untuk Indonesia Atsushi Ueno.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan solusi distribusi energi yang dapat menjangkau wilayah dengan kondisi geografis dan infrastruktur beragam. Karena itu, teknologi penyimpanan dan pengangkutan gas tanpa jaringan pipa menjadi salah satu opsi yang dikaji untuk melengkapi infrastruktur energi yang telah tersedia.
PTH Wakil Direktur Utama Pertamina Mega Satria mengatakan kolaborasi strategis dan inovasi teknologi merupakan bagian dari upaya perusahaan mengembangkan peluang bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
"Melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional, Pertamina berupaya mengeksplorasi solusi teknologi yang dapat mendukung diversifikasi energi dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya gas domestik. Teknologi penyimpanan gas berbasis MOF ini memiliki potensi untuk melengkapi pilihan distribusi energi, termasuk bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa," ujar Mega dikutip dari siaran pers Pertamina, Selasa, 27 Oktober 2026.
Ia menegaskan studi perlu dilakukan secara sistematis melalui koordinasi antarpihak, tujuan yang jelas, serta tahapan dan hasil yang terukur. Aspek keselamatan, kelayakan teknis dan keekonomian, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengelolaan risiko menjadi pertimbangan utama dalam menentukan kelanjutan pengembangan teknologi tersebut.
Teknologi MOF untuk penyimpanan gas
Melalui studi bersama ini, Pertamina dan kedua mitra mengevaluasi teknologi CubiTan® yang dikembangkan Atomis. Teknologi tersebut menggunakan material MOF berpori untuk mengadsorpsi atau mengikat molekul gas pada permukaannya.
Pendekatan ini berpotensi memungkinkan penyimpanan gas metana pada tekanan lebih rendah dibandingkan sistem gas alam terkompresi konvensional. Namun, kesesuaian teknologi untuk kebutuhan penyimpanan dan pengangkutan gas di Indonesia masih perlu dievaluasi melalui kajian teknis dan keselamatan.
Studi tersebut juga mencakup potensi pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif untuk berbagai aplikasi yang saat ini menggunakan LPG. Apabila memenuhi persyaratan teknis, keselamatan, regulasi, dan keekonomian, teknologi ini berpotensi mendukung diversifikasi pasokan energi dan optimalisasi sumber daya gas domestik, termasuk sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan pada LPG impor.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi sumber daya energi nasional dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah.
"Indonesia memiliki potensi sumber daya energi yang perlu didukung oleh solusi distribusi sesuai karakteristik negara kepulauan. Sebagai perusahaan energi nasional milik negara, Pertamina terus mengeksplorasi inovasi untuk memperkuat ketahanan energi dan memperluas akses masyarakat terhadap energi yang terjangkau," ujar Baron.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
Evaluasi konsep Smart Gas Network
Selain teknologi penyimpanan gas berbasis MOF, kerja sama ini mencakup evaluasi konsep Smart Gas Network yang dikembangkan Yachiyo Engineering dan Atomis. Konsep tersebut mengintegrasikan wadah penyimpanan gas dengan sistem pemantauan jarak jauh untuk mendukung perencanaan pengiriman dan pengelolaan penggunaan gas.
Para pihak akan mengevaluasi kesesuaian konsep tersebut dengan infrastruktur, kebutuhan pengguna, dan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Potensi pemanfaatan sumber gas domestik, termasuk gas berbasis biomassa, juga dapat menjadi bagian dari evaluasi sesuai dengan lingkup studi.
Baron menegaskan kerja sama tersebut masih berada pada tahap kajian untuk memperoleh dasar pengambilan keputusan sebelum pengembangan lebih lanjut dipertimbangkan.
"Inovasi harus memberikan manfaat nyata dan sesuai dengan kebutuhan Indonesia. Karena itu, kami mengedepankan pengujian menyeluruh terhadap aspek keselamatan, kelayakan operasional, dan keekonomian. Teknologi yang dikaji diharapkan dapat melengkapi pilihan distribusi gas sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik," tambah Baron.
Sebagai perusahaan energi yang menjalankan bisnis dari hulu hingga hilir, Pertamina terus memperkuat bisnis utama sekaligus menjajaki peluang bisnis rendah karbon melalui strategi dual growth. Kolaborasi teknologi menjadi bagian dari upaya tersebut untuk mendukung ketersediaan, akses, keterjangkauan, dan penerimaan masyarakat terhadap energi serta memperkuat ketahanan energi nasional.