Ekonomi Indonesia Masuk 7 Besar Dunia Berdasarkan PPP

Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Ekonomi Indonesia Masuk 7 Besar Dunia Berdasarkan PPP

Ade Hapsari Lestarini • 22 October 2026 16:13

Jakarta: Ekonomi Indonesia menempati peringkat ketujuh terbesar di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) yang disesuaikan dengan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP). Berdasarkan proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) Oktober 2026, nilai PDB Indonesia mencapai USD5,48 triliun dalam dolar internasional.

Melansir Visual Capitalist, Kamis, 22 Oktober 2026, posisi Indonesia meningkat dari peringkat ke017 berdasarkan PDB nominal menjadi ketujuh berdasarkan PPP. Perubahan ini terjadi karena kedua ukuran tersebut menggunakan pendekatan berbeda dalam membandingkan skala ekonomi negara.

PDB nominal mengukur nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara menggunakan harga dan nilai tukar pasar. Sementara itu, PPP memperhitungkan perbedaan tingkat harga antarnegara untuk membandingkan daya beli dan volume aktivitas ekonomi secara lebih setara.

Dengan demikian, perubahan peringkat Indonesia tersebut bukan berarti ekonomi nasional melonjak sepuluh posisi dalam pertumbuhan tahunan, melainkan menunjukkan perbedaan hasil pemeringkatan berdasarkan metode pengukuran yang digunakan.

Dalam proyeksi IMF untuk 2026, Tiongkok menempati posisi pertama dengan PDB berdasarkan PPP sebesar USD44,55 triliun. Amerika Serikat berada di peringkat kedua dengan USD32,64 triliun, disusul India sebesar USD19,19 triliun.

"Setelah disesuaikan dengan daya beli, ekonomi Tiongkok mencapai USD44,6 triliun (dalam dolar internasional), sekitar 37 persen lebih besar daripada Amerika Serikat. Tiongkok pertama kali melampaui AS menurut ukuran ini pada 2014," ujar analisis tersebut.

Indonesia mencatatkan kenaikan peringkat paling signifikan di antara negara-negara yang muncul dalam kedua daftar tersebut, yakni naik dari peringkat ke-17 ke peringkat ketujuh. Posisi ini menempatkan India di atas beberapa kekuatan ekonomi mapan, termasuk Kanada, Prancis, dan Inggris.
 

 

Tiongkok pimpin ekonomi dunia berdasarkan PPP


Dalam proyeksi IMF untuk 2026, Tiongkok menempati posisi pertama dengan PDB berdasarkan PPP sebesar USD44,55 triliun. Amerika Serikat berada di peringkat kedua dengan USD32,64 triliun, disusul India sebesar USD19,19 triliun.

Berikut daftar 10 ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB yang disesuaikan dengan PPP pada 2026:
  1. Tiongkok USD44,55 triliun.
  2. Amerika Serikat USD32,64 triliun.
  3. India USD19,19 triliun.
  4. Rusia USD7,54 triliun.
  5. Jepang USD7,32 triliun.
  6. Jerman USD6,55 triliun.
  7. Indonesia USD5,48 triliun.
  8. Brasil USD5,27 triliiun.
  9. Inggris USD4,78 triliun.
  10. Prancis USD4,76 triliiun.

Berdasarkan daftar tersebut, Indonesia berada di atas Brasil, Inggris, dan Prancis dalam pengukuran PDB berdasarkan PPP. Meski demikian, posisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa pendapatan atau daya beli setiap penduduk Indonesia lebih tinggi dibandingkan penduduk negara-negara tersebut.
 

Konsumsi rumah tangga jadi penopang ekonomi


Besarnya pasar domestik menjadi salah satu karakteristik ekonomi Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar, aktivitas konsumsi rumah tangga berperan penting dalam menopang kegiatan ekonomi nasional.

Data perekonomian Indonesia menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,98 persen pada 2025. Komponen ini juga menjadi penyumbang terbesar PDB dari sisi pengeluaran, dengan kontribusi sekitar 53,9 persen terhadap ekonomi nasional.

Pengeluaran masyarakat mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari makanan dan minuman, transportasi, perumahan, pendidikan, hingga layanan akomodasi dan restoran. Aktivitas tersebut mendukung perputaran usaha di berbagai sektor.

Selain konsumsi domestik, manufaktur dan ekspor komoditas turut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi Indonesia. Produk seperti minyak kelapa sawit dan logam dasar menjadi bagian dari perdagangan luar negeri, sementara kegiatan industri berkontribusi terhadap produksi dan nilai tambah ekonomi.

Perbedaan tingkat harga barang dan jasa antarnegara menjadi faktor penting dalam penghitungan PPP. Barang dan jasa yang sama dapat memiliki harga berbeda di setiap negara, sehingga nilai PDB berdasarkan kurs pasar belum tentu menggambarkan volume aktivitas ekonomi domestik secara sebanding.

Melalui penyesuaian PPP, nilai produksi dan konsumsi di negara dengan tingkat harga relatif lebih rendah dapat tercermin lebih besar dibandingkan jika hanya dihitung menggunakan nilai tukar pasar.

Meski berguna untuk membandingkan skala ekonomi dan daya beli antarnegara, PDB berdasarkan PPP bukan satu-satunya indikator untuk menilai kesejahteraan masyarakat. PDB per kapita, distribusi pendapatan, produktivitas, dan kualitas hidup tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi ekonomi suatu negara.

(Ade Hapsari Lestarini)