Museum Marsinah. (Dokumentasi/ Instagram @republikindonesia)
Sejarah Pembentukan Museum Marsinah Berawal dari Keinginan Keluarga
Silvana Febiari • 2 November 2026 09:16
Nganjuk: Museum Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan aktivis buruh Marsinah. Pendirian museum ini berawal dari keinginan keluarga agar sosok dan perjuangan Marsinah dikenang melalui sebuah monumen.
Gagasan tersebut disampaikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang kala itu menjabat sebagai Kapolri saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Museum Marsinah dan Rumah Singgah pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Dikutip dari Media Indonesia, Listyo mengatakan keluarga Marsinah menginginkan adanya sesuatu yang monumental untuk mengenang perjalanan hidup dan perjuangan Marsinah dalam membela hak-hak buruh.
Museum tersebut dirancang untuk menyimpan berbagai barang peninggalan Marsinah, mulai dari surat-surat perjuangan, catatan berisi keluh kesah kepada kakaknya, buku harian, pulpen, pakaian, hingga dokumen lain yang berkaitan dengan perjalanan hidupnya sebagai aktivis buruh.
Dalam kesempatan itu, Listyo menyampaikan semangat perjuangan Marsinah perlu terus dijaga dan diteruskan oleh generasi berikutnya, khususnya dalam memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga menilai pembangunan museum dan rumah singgah menjadi upaya untuk melestarikan nilai perjuangan Marsinah.
Menurut Khofifah, museum tidak sekadar menjadi bangunan fisik, tetapi juga ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal keberanian, kejujuran, dan keberpihakan Marsinah terhadap keadilan.
Berdiri di Atas Lahan 938 Meter Persegi
Setelah melalui proses pembangunan, Museum Marsinah dan Rumah Singgah akhirnya diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu, 16 Mei 2026.Berdasarkan informasi dari laman Dewan Pertahanan Nasional (DPN), kompleks museum tersebut berdiri di atas lahan seluas 938 meter persegi. Kawasannya terdiri atas dua bangunan utama, yakni museum memorial dan rumah singgah.
Museum ini menyimpan berbagai barang peninggalan Marsinah yang menggambarkan kehidupan pribadi serta perjalanan perjuangannya. Sejumlah koleksi yang dipamerkan di antaranya seragam kerja pabrik, tas, dompet, sepeda ontel, serta dokumen pribadi berupa ijazah sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Selain itu, terdapat piagam penghargaan dari berbagai organisasi buruh yang menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan perjuangan Marsinah.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah kamar Marsinah yang dipertahankan sebagaimana kondisi aslinya. Keberadaan kamar tersebut memberikan gambaran mengenai kehidupan Marsinah semasa hidupnya.
_%20Museum%20in%20(1).jpg)
Museum Marsinah. (Dokumentasi/ Instagram @republikindonesia)
Diresmikan Presiden Prabowo
Dalam rangkaian peresmian pada 16 Mei 2026, Presiden Prabowo terlebih dahulu mengunjungi rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Marsinah dan bertemu dengan keluarga besarnya. Presiden meninjau museum untuk melihat berbagai koleksi peninggalan sang aktivis buruh.Dalam sambutannya, Prabowo menyebut pendirian museum sebagai bentuk penghormatan terhadap keberanian Marsinah dalam memperjuangkan hak-hak pekerja.
Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Marsinah yang berjarak sekitar satu kilometer dari kompleks museum. Prabowo menaburkan bunga dan memanjatkan doa di makam Marsinah sebagai bentuk penghormatan.
Keberadaan Museum Marsinah menjadi ruang untuk merawat ingatan sejarah perjuangan buruh sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat. Melalui berbagai koleksi yang tersimpan, generasi muda dapat mengenal sosok Marsinah dan memahami nilai keberanian serta perjuangannya dalam menuntut keadilan bagi pekerja.