Hatta Rajasa saat dilantik Presiden RI Prabowo Subianto sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI. Foto: Tangkapan layar Sekretariat Presiden
Profil Hatta Rajasa, Politisi Kawakan yang Jadi Wakil Ketua Wantimpres
Muhamad Marup • 2 October 2026 15:54
Jakarta: Presiden RI, Prabowo Subianto, melantik sejumlah nama untuk menjadi bagian Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI. Politisi, Hatta Rajasa, termasuk dari nama-nama yang dilantik.
Hatta Rajasa merupakan nama yang tidak asing. Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) itu merupakan sosok yang malang melintang dalam konstelasi politik tanah air.
Mengawali karier politik sebagai Anggota DPR, Hatta kemudian mengisi sejumlah jabatan strategis di pemerintahan. Puncaknya, ia bersama Prabowo Subianto mencalonkan diri sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 2014.
Hatta Rajasa merupakan nama yang tidak asing. Politisi asal Partai Amanat Nasional (PAN) itu merupakan sosok yang malang melintang dalam konstelasi politik tanah air.
Mengawali karier politik sebagai Anggota DPR, Hatta kemudian mengisi sejumlah jabatan strategis di pemerintahan. Puncaknya, ia bersama Prabowo Subianto mencalonkan diri sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden pada Pemilu 2014.
Mandiri Sejak Dini
Hatta Rajasa lahir di Palembang, Sumatera Selatan pada 18 Desember 1953. Ia merupakan anak kedua dari 12 bersaudara.
Sejak tamat SD, Hatta sudah terbiasa hidup mandiri. Ketika keluarganya tinggal di daerah Muara Kuang, saat itu belum ada SMP, sehingga Hatta kecil dititipkan kepada pamannya di Palembang.
Jarak antara Palembang dengan kecamatan itu kira-kira 100 kilometer dengan kondisi jalanan yang buruk sekali. Dari situlah ia mulai mengenal arti sebuah kehidupan.
Perkembangan emosionalnya mulai banyak dipengaruhi oleh lingkungan, yakni setiap orang itu haruslah saling menolong, saling memberi dan mau berkorban bagi orang lain. Di situ ia telah menyadari bahwa kesuksesan seseorang bukan semata-mata karena kemampuan dirinya sendiri, tetapi 60% adalah karena kerjasama orang lain, jasa orang lain, terutama ibu-bapaknya, keluarga, teman dan kerabatnya serta berkat doa orang tua.
Pandangan itu (semangat toleransi dan menghargai orang lain) sangat dijiwainya sejak kecil, bahkan sampai saat ini tetap mempengaruhi hidupnya. Karena sejak tamat SD ia sudah harus hidup dengan keluarga orang lain, itu berarti ia harus belajar tahu diri sebagai orang yang dititipkan.
Jarak dengan keluarga semakin jauh ketika Hatta berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Aspek religius, emosional dan rasionalnya dibentuk dalam dua periode itu, yakni ketika SMP-SMA di Sumatera Selatan dan ketika kuliah di ITB.
Ketika di ITB, ia aktif dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai Waka Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB dan Senator Mahasiswa ITB. Selain itu, semasa kuliah ia juga sempat menjadi aktivis Masjid Salman Bandung.
Sejak tamat SD, Hatta sudah terbiasa hidup mandiri. Ketika keluarganya tinggal di daerah Muara Kuang, saat itu belum ada SMP, sehingga Hatta kecil dititipkan kepada pamannya di Palembang.
Jarak antara Palembang dengan kecamatan itu kira-kira 100 kilometer dengan kondisi jalanan yang buruk sekali. Dari situlah ia mulai mengenal arti sebuah kehidupan.
Perkembangan emosionalnya mulai banyak dipengaruhi oleh lingkungan, yakni setiap orang itu haruslah saling menolong, saling memberi dan mau berkorban bagi orang lain. Di situ ia telah menyadari bahwa kesuksesan seseorang bukan semata-mata karena kemampuan dirinya sendiri, tetapi 60% adalah karena kerjasama orang lain, jasa orang lain, terutama ibu-bapaknya, keluarga, teman dan kerabatnya serta berkat doa orang tua.
Pandangan itu (semangat toleransi dan menghargai orang lain) sangat dijiwainya sejak kecil, bahkan sampai saat ini tetap mempengaruhi hidupnya. Karena sejak tamat SD ia sudah harus hidup dengan keluarga orang lain, itu berarti ia harus belajar tahu diri sebagai orang yang dititipkan.
Jarak dengan keluarga semakin jauh ketika Hatta berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Aspek religius, emosional dan rasionalnya dibentuk dalam dua periode itu, yakni ketika SMP-SMA di Sumatera Selatan dan ketika kuliah di ITB.
Ketika di ITB, ia aktif dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai Waka Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan ITB dan Senator Mahasiswa ITB. Selain itu, semasa kuliah ia juga sempat menjadi aktivis Masjid Salman Bandung.
Fokus Politik

Hatta Rajasa. Foto: ICMI
Setamat dari ITB jurusan perminyakan, sebenarnya ia ingin menjadi seorang dosen, tetapi tidak kesampaian, mungkin karena ketika mahasiswa ia seorang aktivis dan suka memberontak terhadap pemerintah saat itu. Ketika itu, sebenarnya ia diterima bekerja di beberapa tempat dengan gaji yang lebih besar, tetapi ia menolak karena ia ingin lebih mandiri dengan membuat perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan sesuai pendidikannya.
Kemudian ia bersama teman-temannya merintis usaha itu sampai memiliki beberapa badan usaha yang bekerjasama dengan perusahaan asing dan pertamina. Sejak tahun 1982 sampai 2000 ia menjabat sebagai Presiden Direktur Arthindo tetapi sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Manager Teknis PT. Meta Epsi yakni sebuah perusahaan pengeboran minyak.
Tetapi ketika ia memutuskan bergabung dengan partai politik, semua kegiatan usaha itu dihentikan dengan cara semuanya dijual. Beliau masuk Partai Amanat Nasional (PAN). Setelah masuk partai, ia benar-benar berhenti dari usaha, tidak lagi memiliki usaha dan tak mau berbisnis.
Hatta benar-benar berkonsentrasi dengan satu bidang karena hal itu adalah sifatnya. Jika ia berusaha (bisnis), ia tidak mau bercampur dengan kegiatan lain, begitu juga dalam berpolitik.
Dari Parlemen ke Pemerintahan
Pada tahun 1999, Hatta Rajasa lolos ke Senayan dan langsung menduduki jabatan Ketua Fraksi Reformasi DPR dan nyaris tidak pulang-pulang. Kariernya cukup gemilang sebab Baru dua tahun menjabat anggota DPR, ia dipercaya menjadi Menteri Riset dan Teknologi pada Kabinet Gotong Royong hingga tahun 2004.
Pada tahun pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla yang disebut Kabinet Indonesia Bersatu, Hatta diangkat menjadi Menteri Perhubungan, kemudian pada tahun 2007-2009, SBY mengangkat Hatta sebagai Menteri Sekretariat Negara Kabinet Indonesia Bersatu. Karier Hatta Rajasa di pemerintah terus menanjak. Pada tahun 2009, beliau menjadi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian.
Ketika masih menjabat sebagai Menko Perekonomian, Presiden SBY pada 19 April 2013 menunjuk Menko Perekonomian yang juga ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa sebagai pelaksana tugas (Plt) Menteri Keuangan (MenKeu) menggantikan Agus Martowardojo yang terpilih sebagai gubernur Bank Indonesia (BI). Keputusan itu menuai banyak kritik, namun Hatta siap melaksanakan tugasnya secara maksimal.
Pada 28 Februari 2014, Menko Perekonomian Hatta Rajasa meminta Kementerian Keuangan segera merenovasi Hett Witte Huis atau Istana Daendels di Lapangan Banteng karena kondisinya sangat mengenaskan, meski dari kejauhan tampak terlihat megah tetapi jika dilihat dari dekat seluruh ruangan gedung sudah tidak bisa dipergunakan oleh pegawai Kemenkeu maupun Kemenko dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Hatta juga menegaskan bahwa Istana Daendels harus tetap dipertahankan sebagai cagar budaya apalagi sudah dilindungi oleh UU sebagai warisan sejarah dunia.
Selasa, 13 Mei 2014, pihak istana akhirnya mengkonfirmasi kabar rencana mundurnya Hatta Rajasa sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, juru bicara (jubir) Presiden, Julian Aldrin Pasha mengatakan bahwa memang benar ada rencana Hatta akan mundur dari Menko Perekonomian dan memang harus mundur jika dicalonkan parpol atau dideklarasikan pencalonan bersama Prabowo jika merujuk pada UU No. 24 Tahun 2008 tentang pemilihan presiden.
Ketika Rakernas PAN di Jakarta 14 Mei 2014, Ketua Umum DPP PAN, Hatta Rajasa mengatakan bahwa dirinya tidak akan ambil pusing dan khawatir terkait dengan ancaman dari PPP yang akan menarik dukungan ke Partai Gerindra yang merasa tidak dilibatkan dalam penentuan cawapres. Menurutnya, perihal penentuan cawapres bukan atas kehendaknya tetapi menjadi hak dan keputusan capres yakni Prabowo Subianto.
Beliau juga tidak khawatir jika pencalonanya sebagai cawapres mendampingi Prabowo goyah karena adanya riak politik yang terjadi. Meski begitu, ketika hasil Pemilu diumumkan, Pasangan Jokowi-JK berhasil memenangkan Pemilu.
Kekalahan tersebut menepikan Hatta Rajasa dari riuh panggung utama perpolitikan tanah air. Kini, dengan menjadi Wakil Ketua Wantimpres RI, Hatta kembali bersama Prabowo, meski tidak berdampingan secara langsung.
Pada tahun pertama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla yang disebut Kabinet Indonesia Bersatu, Hatta diangkat menjadi Menteri Perhubungan, kemudian pada tahun 2007-2009, SBY mengangkat Hatta sebagai Menteri Sekretariat Negara Kabinet Indonesia Bersatu. Karier Hatta Rajasa di pemerintah terus menanjak. Pada tahun 2009, beliau menjadi Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian.
Ketika masih menjabat sebagai Menko Perekonomian, Presiden SBY pada 19 April 2013 menunjuk Menko Perekonomian yang juga ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa sebagai pelaksana tugas (Plt) Menteri Keuangan (MenKeu) menggantikan Agus Martowardojo yang terpilih sebagai gubernur Bank Indonesia (BI). Keputusan itu menuai banyak kritik, namun Hatta siap melaksanakan tugasnya secara maksimal.
Pada 28 Februari 2014, Menko Perekonomian Hatta Rajasa meminta Kementerian Keuangan segera merenovasi Hett Witte Huis atau Istana Daendels di Lapangan Banteng karena kondisinya sangat mengenaskan, meski dari kejauhan tampak terlihat megah tetapi jika dilihat dari dekat seluruh ruangan gedung sudah tidak bisa dipergunakan oleh pegawai Kemenkeu maupun Kemenko dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Hatta juga menegaskan bahwa Istana Daendels harus tetap dipertahankan sebagai cagar budaya apalagi sudah dilindungi oleh UU sebagai warisan sejarah dunia.
Selasa, 13 Mei 2014, pihak istana akhirnya mengkonfirmasi kabar rencana mundurnya Hatta Rajasa sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, juru bicara (jubir) Presiden, Julian Aldrin Pasha mengatakan bahwa memang benar ada rencana Hatta akan mundur dari Menko Perekonomian dan memang harus mundur jika dicalonkan parpol atau dideklarasikan pencalonan bersama Prabowo jika merujuk pada UU No. 24 Tahun 2008 tentang pemilihan presiden.
Baca Juga :
Hatta Rajasa Siap jadi Wakil Ketua Wantim RI
Beliau juga tidak khawatir jika pencalonanya sebagai cawapres mendampingi Prabowo goyah karena adanya riak politik yang terjadi. Meski begitu, ketika hasil Pemilu diumumkan, Pasangan Jokowi-JK berhasil memenangkan Pemilu.
Kekalahan tersebut menepikan Hatta Rajasa dari riuh panggung utama perpolitikan tanah air. Kini, dengan menjadi Wakil Ketua Wantimpres RI, Hatta kembali bersama Prabowo, meski tidak berdampingan secara langsung.
Penghargaan
Hatta Rajasa memiliki segudang penghargaan, di antaranya adalah:
- Penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana dari Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2013
- Narasumber atau Pejabat Yang Paling Mudah Dihubungi Wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia Jaya pada tahun 2013
- Economic Booster of The Year dari Indonesia Property and Bank pada tahun 2013
- Reformasi Award dari Pro Democracy pada tahun 2013
- Pemimpin Pembangunan Ekonomi Nasional dari Persatuan Wartawan Indonesia Cabang Jawa Timur di tahun 2013
- The Rising Stars’s Men Obsession’s 9 Young Leaders 2013-2014 dari Men Obsession’s
- Gwanghwa Medal dari The First Rank of The Order of Diplomatic Service Merit, Republic of Korea Jakarta pada tahun 2012,
- Pemimpin Perubahan 2011 dari Republika
- Public Policy Award dari Asia Society pada tahun 2011
- Ganesha Prajamanggala Bakti Kencana dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 2011
- Charta Politica Award di tahun 2010
- Ganesha Prajamanggala Bakti Adiutama dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 2009 yang lalu.