Istanbul dilanda banjir terparah sejak 1942 di pekan ketiga Oktober 2026. (Anadolu Agency)
Empat Orang Tewas dalam Banjir Terparah di Istanbul Turki Sejak 1942
Willy Haryono • 17 October 2026 08:44
Istanbul: Banjir besar yang melanda Istanbul dalam beberapa hari terakhir menjadi bencana banjir terparah di kota tersebut sejak 1942, menurut Menteri Dalam Negeri Turki Mustafa Ciftci pada Jumat, 16 Oktober 2026, yang sejauh ini telah menewaskan empat orang.
Istanbul, kota terbesar di Turki dengan sekitar 16 juta penduduk, diguyur hujan selama 48 jam hingga Kamis pagi dengan curah hujan yang melampaui rata-rata historis gabungan untuk September dan Oktober, menurut kantor berita Anadolu yang dikelola pemerintah.
“Kami berupaya semaksimal mungkin membantu warga, tetapi kami juga sedang mengalami bencana banjir terbesar sejak 1942,” kata Ciftci saat mengunjungi salah satu kawasan yang paling parah terdampak hujan deras pada Rabu malam.
Jenazah seorang pria berusia 66 tahun ditemukan pada Jumat di bawah sebuah jembatan di distrik Sariyer, Istanbul. Tiga korban lainnya sebelumnya dilaporkan meninggal, termasuk seorang remaja yang tersengat listrik saat badai.
Banjir merendam rumah dan tempat usaha, sementara air menggenangi jalan serta taman di berbagai bagian kota. Sejumlah kendaraan terseret arus dan banyak di antaranya menumpuk di bagian bawah lereng.
Sebelum jenazah pria tersebut ditemukan pada Jumat, Ciftci mengatakan kepada wartawan di kawasan Ayazaga, Sariyer, bahwa empat orang masih dinyatakan hilang.
Ia menyebut pihak berwenang telah menerima 9.850 laporan kerusakan dan persoalan lain terkait banjir. Sebanyak 46.000 personel dikerahkan untuk membersihkan puing-puing dan membantu warga Istanbul.
Direktorat Jenderal Meteorologi Turki kemudian memperingatkan potensi hujan “lebat dan intens” di Istanbul serta empat provinsi di sekitarnya selama akhir pekan.
Menteri Lingkungan Hidup, Urbanisasi, dan Perubahan Iklim Murat Kurum turut mendampingi Ciftci mengunjungi kawasan yang terdampak banjir.
Menanggapi kekhawatiran bahwa pembangunan perkotaan di dekat aliran air memperparah banjir, Kurum mengatakan penanganan persoalan tersebut merupakan hal yang “sangat penting."
Kurum, yang akan memimpin konferensi perubahan iklim PBB COP31 bulan depan di Antalya, Turki, juga mengaitkan banjir dengan dampak perubahan iklim.
“Memerangi perubahan iklim bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan,” katanya.
Baca juga: Turki Dilanda Banjir Bandang Akibat Hujan Lebat