Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Menguat Didorong Pelemahan Euro dan Aksi Jual di Pasar Obligasi
Eko Nordiansyah • 20 October 2026 08:35
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Senin, 19 Oktober 2026, didorong oleh pelemahan euro dan berlanjutnya aksi jual di pasar obligasi AS.
Dikutip dari Investing, Selasa, 20 Oktober 2026, indeks Dolar AS, yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen ke level 102.
Indeks ini sempat mencatatkan penurunan mingguan pertamanya dalam lima minggu terakhir, yang dipicu oleh berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Prancis dalam gejolak
Para pelaku pasar mata uang di AS maupun di seluruh dunia tengah memantau situasi yang kian memanas di Prancis. Ekonomi terbesar kedua di zona euro ini diguncang selama akhir pekan oleh aksi protes kekerasan yang dipicu oleh lonjakan biaya hidup dan kurangnya pendanaan untuk layanan publik, di tengah krisis fiskal yang sedang dihadapi negara tersebut.Ribuan orang terlibat bentrokan dengan polisi di berbagai kota di Prancis dan melakukan penjarahan di sejumlah toko, yang memicu salah satu kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kekerasan ini semakin meningkatkan tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron, yang masa jabatannya akan berakhir di 2027 kian lumpuh akibat ketidakpuasan sosial.
Dengan kinerja obligasi pemerintah Prancis (OAT) yang tertinggal dan biaya untuk mengasuransikan utang negara Prancis melalui credit default swap (CDS) yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, selisih imbal hasil (spread) obligasi Prancis terhadap obligasi pemerintah Jerman (Bunds) melebar. Hal ini memberikan tekanan fundamental langsung terhadap mata uang euro, yang kemudian melemah 0,3 persen menjadi USD1,1210.
Biaya pinjaman tenor 10 tahun Prancis melonjak pada Senin, dan aksi jual obligasi tersebut turut merembet ke Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 4,5 basis poin menjadi 5,145 persen, sementara imbal hasil tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, naik 4 basis poin menjadi 4,776 persen.
Nilai tukar dolar sempat melemah pekan lalu setelah ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) mengalami fluktuasi tajam. Laporan inflasi konsumen dan produsen AS yang jauh lebih tinggi dari perkiraan sempat meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (seperempat poin) oleh The Fed akhir bulan ini.
Namun, ekspektasi tersebut mereda pada hari Jumat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, tidak memberikan indikasi apa pun mengenai langkah kebijakan suku bunga di masa mendatang.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Yen Jepang melemah
Di Asia, yen Jepang melemah ke level 158,53 per dolar. Para pelaku pasar valuta asing tetap waspada terhadap kemungkinan intervensi langsung oleh otoritas di Tokyo pada tingkat harga saat ini, menyusul sinyal peringatan bersama yang sebelumnya disampaikan dengan Washington.Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, dalam pernyataan publiknya menyebutkan inflasi inti di Jepang terus bergerak mendekati target dua persen yang ditetapkan bank sentral.
Pernyataan Ueda memperkuat ekspektasi pasar bahwa BOJ tetap berada di jalur normalisasi kebijakan secara bertahap, sehingga para pelaku pasar terus memantau kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter di akhir tahun ini.
Sementara itu, rupiah akhirnya menghentikan tren pelemahan selama empat hari berturut-turut, yang sempat membawa nilai tukarnya ke angka 18.063,0 per dolar, level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir.
Aksi jual ini terjadi setelah penyedia indeks global, MSCI, mengusulkan penurunan peringkat (downgrade) pasar ekuitas Indonesia akibat kekhawatiran yang terus berlanjut terkait aksesibilitas dan tata kelola pasar.
Usulan tersebut memicu kejatuhan historis sebesar 11,6 persen pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), penurunan harian terburuk sejak Krisis Keuangan Asia 1998.
Dolar Kanada menguat
Di sisi lain, dolar Kanada menguat ke level 1,4110 per dolar AS, setelah percepatan inflasi konsumen meningkatkan ekspektasi akan langkah-langkah yang lebih ketat (hawkish) dari bank sentral negara Amerika Utara tersebut.Menurut Statistics Canada, indeks harga konsumen (IHK) naik 3,1 persen secara tahunan (yoy) pada bulan September, angka ini berada di bawah estimasi para ekonom sebesar 3,2 persen, namun lebih tinggi dibandingkan capaian tiga persen pada Agustus.
Selain itu, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan berturut-turut, IHK tersebut melampaui kisaran target Bank of Canada (BOC) yang ditetapkan antara satu persen hingga tiga persen.
Kenaikan IHK (Indeks Harga Konsumen) terutama didorong oleh lonjakan harga energi sebesar 19 persen secara tahunan (yoy), sementara harga bensin melesat 27,8 persen secara tahunan.
Gubernur Bank of Canada (BOC) Tiff Macklem menyatakan bahwa inflasi kemungkinan akan meningkat, meskipun ia juga menyebutkan bahwa sejauh ini hanya terdapat sedikit bukti adanya tekanan harga yang merembet ke barang dan jasa lainnya.