Khamenei dan pemimpin militer Iran, termasuk Artesh dan IRGC. (Istimewa)
Mengenal IRGC, Sejarah, Struktur, dan Dugaan Kejahatan Kemanusiaan
Riza Aslam Khaeron • 5 March 2026 13:37
BJakarta: Perang di Iran yang meletus pada 28 Februari 2026 akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel kini telah memasuki hari ke-6. Serangan awal yang lancarkan kedua negara tersebut menewaskan Pemimpin Agung Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Dalam konfrontasi ini, salah satu target utama Washington dan Tel Aviv adalah melumpuhkan kekuatan militer Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara sistematis. Di sinilah IRGC menjadi sorotan utama, mengingat posisinya sebagai pilar terkuat pertahanan Teheran.
Ketegangan ini semakin dipertegas oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada malam pembukaan operasi "Epic Fury".
“Kepada para anggota Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan seluruh kepolisian, saya katakan malam ini bahwa kalian harus meletakkan senjata dan akan mendapatkan imunitas penuh,” ucap Trump pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Organisasi yang juga dikenal sebagai Pasdaran ini merupakan salah satu cabang utama Angkatan Bersenjata Iran dengan struktur yang cukup kompleks. Berawal dari milisi ideologis pasca-Revolusi 1979, IRGC berevolusi menjadi raksasa yang mendominasi aspek politik, ekonomi, hingga keamanan nasional Iran.
Organisasi ini telah ditetapkan sebagai organisasi terorisme oleh beberapa negara dan telah dituduh melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Salah cabang mereka, Basij telah dituduh terlibat dalam pembantaian demonstran Iran pada bulan Januari lalu
Lantas, bagaimana sejarah panjang IRGC, apa yang membedakannya dengan militer reguler (Artesh), dan seperti apa struktur internal mereka? Berikut adalah ulasan lengkapnya.
Sejarah IRGC

Ruhollah Khomeini. (Jamaran.ir)
Eksistensi IRGC berakar pada situasi pascajatuhnya Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979. Kala itu, Iran terjebak dalam kekosongan kekuasaan yang memicu persaingan sengit antara faksi kiri, nasionalis, dan Islamis.
Dalam ketidakpastian tersebut, kelompok pemuda radikal yang memiliki ideologi kuat—beberapa di antaranya sempat menerima pelatihan gerilya oleh PLO di Lebanon—secara resmi membentuk Pasdaran pada Mei 1979.
Langkah strategis ini diambil oleh para pemimpin revolusi, termasuk Pemimpin Agung Iran saat itu, Ruhollah Khomeini, untuk mengonsolidasikan berbagai unit paramiliter ke dalam satu komando tunggal yang setia sepenuhnya kepada rezim baru.
Sejak awal, organisasi ini dirancang sebagai kekuatan penyeimbang terhadap militer reguler (Artesh) yang loyalitasnya sempat diragukan akibat kedekatan historis mereka dengan rezim Shah.
Kekhawatiran tersebut terbukti nyata melalui upaya kudeta "Nojeh" pada Juli 1980 yang melibatkan sejumlah perwira angkatan udara Artesh. Guna mencegah ancaman serupa, IRGC dibangun untuk bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi.
Jalur komando khusus ini sengaja memintas kewenangan presiden, sehingga memberikan IRGC keleluasaan operasional di luar batasan yudisial demi menjaga stabilitas revolusi.

Foto lawas IRGC. (english.khamenei.ir)
Melansir Council on Foreign Relations (CFR), Lebih dari sekadar institusi militer, IRGC dikonsepkan sebagai “Tentara Rakyat” untuk menegakkan prinsip velayat-e faqih (perwalian ahli hukum Islam) sekaligus menjadi benteng pertahanan terhadap kudeta internal.
Paradigma protektif ini lahir dari trauma sejarah kudeta 1953, ketika pemerintahan Mohammad Mossadeq digulingkan secara paksa demi mengembalikan kekuasaan absolut Shah melalui intervensi asing.
Titik balik yang benar-benar mengubah wajah IRGC adalah pecahnya Perang Iran-Irak pada September 1980. Konflik besar ini mentransformasi IRGC dari sekadar milisi rakyat menjadi organisasi militer gabungan yang lengkap dengan angkatan darat, laut, dan udara pada 1984 yang berjalan paralel dengan artesh.
Perbedaan Artesh dan IRGC

Artesh. (Farzad Menati/Tasnim)
Iran pada dasarnya memiliki dua pilar keamanan; Artesh, yang bertugas menjaga kedaulatan perbatasan dan ketertiban domestik secara konvensional; serta IRGC, yang memegang mandat khusus untuk melindungi 'sistem Islam' negara.
Meski peran keduanya sering kali tumpang tindih—seperti keterlibatan IRGC dalam keamanan publik hingga pengembangan alutsista mandiri—perbedaan fundamental di antara keduanya tetap sangat kontras.
Melansir pengamatan Ali Alfoneh dari Middle East Institute pada 2011, Artesh merupakan militer reguler yang berpegang teguh pada doktrin konvensional 'klasik' layaknya angkatan bersenjata negara pada umumnya seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Sebaliknya, IRGC sejak awal mengadopsi pola asimetris dan revolusioner yang menitikberatkan pada operasi non-konvensional. Perbedaan doktrin ini tetap bertahan kuat bahkan setelah IRGC membentuk unit darat, laut, dan udara paralel pada pertengahan 1980-an.
Artesh memusatkan basisnya di sepanjang perbatasan internasional untuk fungsi deterrence terhadap invasi luar, sementara basis IRGC di wilayah pinggiran Iran justru diarahkan untuk menopang operasi luar negeri yang kerap dituding sebagai aksi teror oleh pihak Barat.

IRGC. (Tasnim)
Di sektor maritim, angkatan laut reguler dirancang untuk melakukan patroli di laut lepas. Sedangkan, angkatan laut IRGC lebih mengandalkan armada kapal cepat untuk melakukan taktik gangguan (harassment) terhadap Angkatan Laut AS, dengan fokus patroli di kawasan strategis Teluk Persia dan Laut Kaspia.
Sementara itu di domain udara, angkatan udara reguler beroperasi di langit Iran secara konvensional, angkatan udara IRGC justru lebih difokuskan pada pengembangan serta produksi massal teknologi rudal jarak menengah.
Berdasarkan pengamatan Alfoneh, meskipun Artesh memiliki jumlah personel yang lebih besar secara numerik dibandingkan IRGC, namun dari segi pendanaan, Artesh tidak didukung sebaik IRGC.
Merujuk pada Anggaran Nasional 2010–2011, sekitar 4,8 miliar USD dialokasikan untuk Artesh, sementara IRGC mendapatkan alokasi sebesar 5,8 miliar USD. IRGC juga memiliki sayap bisnis tersendiri yaitu Khatam al-Anbiya (yang perannya mirip dengan Korps Zeni Angkatan Darat AS).
“IRGC juga terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi lainnya, baik yang legal maupun ilegal, yang menjadikannya salah satu aktor terpenting di Bursa Efek Teheran. Sebaliknya, aktivitas ekonomi pihak militer (Artesh) tampak terbatas hanya pada beberapa jaringan toko ritel,” tulis Alfoneh.
| Baca Juga: Spesifikasi IRIS Dena, Kapal Fregat Iran yang Ditenggelamkan AS |
Struktur IRGC

Logo IRGC. (Istimewa)
Berdasarkan artikel CFR per 30 Januari 2026, secara keseluruhan, IRGC mengomandoi sekitar 190 ribu personel—di mana hampir setengahnya merupakan warga yang menjalani wajib militer—dengan pembagian cabang utama sebagai berikut:
- Pasukan Darat IRGC (Ground Forces): Merupakan tulang punggung organisasi dengan kekuatan lebih dari 150.000 personel yang ditempatkan secara strategis di seluruh 31 provinsi Iran serta wilayah ibu kota Teheran.
- Basij (Pasukan Paramiliter): Unit mobilisasi massa yang berada langsung di bawah struktur komando IRGC. Basij bertindak sebagai kekuatan cadangan yang mengeklaim mampu memobilisasi hingga 600.000 relawan untuk berbagai keperluan rezim.
- Angkatan Laut IRGC (Navy): Beroperasi secara terpisah dari angkatan laut reguler dengan sekitar 20.000 personel. Unit ini memegang peran krusial dalam mematroli Selat Hormuz, jalur maritim vital yang dilewati sekitar sepertiga minyak mentah dunia setiap tahunnya.
- Angkatan Udara IRGC (Air Force): Memiliki sekitar 15.000 personel dan mengemban tanggung jawab strategis dalam mengelola serta mengoperasikan seluruh program rudal balistik milik Iran.
- Komando Siber (Cyber Command): Unit yang bekerja sama dengan entitas bisnis afiliasi IRGC untuk menjalankan misi spionase militer dan komersial serta penyebaran propaganda digital. Meskipun perannya sangat vital, hubungan formal unit ini dengan kelompok peretas pro-pemerintah lainnya masih dianggap samar.
- Pasukan Quds (Quds Force): Unit elit yang bertugas mengelola operasi luar negeri rezim Iran, termasuk dukungan terhadap proksi-proksi Iran seperti Hizbullah dan Houthi.
Poros Perlawanan dan Pasukan Quds

Pasukan Quds. (via Washington Institute)
Sejak dekade 1980-an, IRGC telah memperluas pengaruhnya di kawasan melalui sponsor terhadap berbagai kelompok bersenjata non-negara. Ambisi eksternal ini dijalankan secara spesifik oleh Pasukan Quds, yang bertindak sebagai cabang urusan luar negeri de facto Iran.
Melalui unit elit ini, Teheran membangun jaringan luas dengan kelompok-kelompok bersenjata di Afghanistan, Irak, Lebanon, wilayah Palestina, Yaman, dan wilayah lainnya. Dukungan yang diberikan mencakup pelatihan tempur, pasokan senjata, kucuran dana, hingga pendampingan taktis militer.
Jejaring aliansi ini secara resmi disebut oleh Teheran sebagai “Poros Perlawanan”—sebuah blok anti-Barat yang berada di bawah pengaruh strategis Iran.

Pasukan Hizbullah di Lebanon. (EPA)
Walaupun kelompok-kelompok di dalamnya sering kali bergerak berdasarkan kepentingan lokal masing-masing, Iran memandang mereka sebagai satu payung pertahanan terintegrasi. Tujuan utamanya adalah untuk "mengekspor revolusi" sekaligus menciptakan daya tangkal jarak jauh terhadap ancaman dari Amerika Serikat dan Israel.
Hizbullah di Lebanon sering kali dianggap sebagai contoh paling sukses dari proyek ini. Sejak pendiriannya, kelompok ini telah dikaitkan dengan berbagai aksi besar, termasuk pemboman Kedutaan Besar AS dan barak Marinir AS di Beirut pada tahun 1983.
Selain itu, intelijen Barat dan Timur Tengah mengaitkan IRGC dengan pemboman pusat komunitas Yahudi di Buenos Aires tahun 1994, sebuah tuduhan yang selalu dibantah keras oleh Teheran.
Peran Pasukan Quds kembali menjadi sorotan pasca Arab Spring 2011; mereka terlibat langsung di garis depan dalam perang saudara Suriah untuk menyokong rezim Bashar al-Assad, serta memberikan dukungan intelijen dan senjata bagi kelompok Houthi di Yaman dalam konflik melawan koalisi pimpinan Arab Saudi.
Basij dan Dugaan Kejahatan Kemanusiaan di Iran

Foto pasukan Basij umumnya menggunakan baju orang sipil, yang memberi mereka julukan Lebas-shakhsi (plainclothes) di Iran. (NCR-Iran)
Basij dikenal luas sebagai instrumen utama dalam penekanan protes domestik dan penegakan kode sosial Islam di Iran. Setelah ditempatkan di bawah komando langsung IRGC pada 2007, unit ini semakin difokuskan untuk memadamkan ancaman internal terhadap stabilitas rezim.
Catatan kelam Basij mencakup keterlibatan mereka dalam dugaan manipulasi pemilihan presiden 2009 untuk memenangkan Ahmadinejad, yang memicu gelombang demonstrasi massa.
Organisasi hak asasi manusia mendokumentasikan serangan brutal Basij terhadap para demonstran kala itu, yang berakhir dengan penahanan ribuan aktivis dan politisi reformis.
Selain itu, mereka dituduh melakukan berbagai tindakan kekerasan sistematis—termasuk penganiayaan, penembakan, kekerasan seksual, hingga penyiksaan—terhadap peserta gerakan protes "Women, Life, Freedom" yang meletus pada akhir 2022 akibat kematian Mahsa Amini.
.jpg)
Jenazah protes Iran 2026. (via NBC)
Tragedi terbaru ketika krisis ekonomi yang mencekam memicu protes massal di Iran sejak Desember 2025. Terjadi bentrok antara pedemo dengan personel IRGC dan anggota milisi Basij. Pemerintah Iran mengeklaim 3.117 orang tewas dalam peristiwa itu.
Namun, sejumlah lembaga media dan organisasi HAM mengestimasi angka jumlah yang lebih tinggi yang mencapai dari angka 7.000 hingga lebih dari 30.000 orang.
Trump sendiri menyebut jumlah kematian protes tersebut mencapai 35.000, tanpa menyebutkan sumber.
Akibat serangkaian tuduhan kejahatan kemanusiaan dan aksi kekerasan tersebut, IRGC kini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh berbagai negara dan lembaga internasional, termasuk Bahrain, Amerika Serikat, Australia, Ekuador, serta baru-baru ini oleh Uni Eropa dan Ukraina sebagai respons atas pembantaian demonstran di awal tahun ini.