Ilustrasi. Foto: dok Istimewa.
Geopolitik Timur Tengah Memanas, RI Belum Berencana Kerek Harga BBM Bersubsidi
Husen Miftahudin • 5 March 2026 21:58
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah lonjakan harga minyak dunia imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut dia, pemerintah masih memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut dan dampaknya terhadap harga minyak mentah dunia sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.
"Belum (menaikkan harga BBM subsidi). Kan (asumsi makro) APBN kita kemarin di 70 dolar AS per barel (ICP). Jadi kita tunggu saja," kata Airlangga saat ditemui di Jakarta, dikutip dari Antara, Kamis, 5 Maret 2026.
Airlangga menerangkan pemerintah saat ini tengah menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi kemungkinan dampak berkepanjangan dari konflik tersebut. "Sampai kapan, ya perang bisa tiga bulan, bisa enam bulan, bisa lebih. Jadi kita masing-masing (menyiapkan) ada skenario," ungkap dia.
| Baca juga: Bahlil Pastikan Harga Pertalite dan Solar Tak Ada Kenaikan hingga Lebaran |

(Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian)
Harga minyak bisa tembus USD100/barel
Sementara pakar energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memprediksi harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga USD100 per barel dari kisaran sekitar USD72 per barel apabila terjadi penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, berada di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global.
Melalui selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional.
Dengan posisi tersebut, Yayan menilai Selat Hormuz menjadi titik yang krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. "Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen," ucap dia.
Yayan menambahkan lonjakan harga BBM berpotensi berdampak pada Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dari kawasan Timur Tengah. Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz sekalipun, konflik yang berlangsung saat ini dapat mendorong kenaikan harga minyak sekitar 10-25 persen.
Dengan potensi harga minyak yang melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar USD70 per barel, Yayan mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi kemungkinan pembengkakan anggaran.