Eks Duta Besar AS Zalmay Khalilzad. (Anadolu Agency)
Eks Dubes AS Ungkap Kesalahan Strategis Washington usai Serangan 9/11
Willy Haryono • 12 September 2026 13:27
Washington: Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September 2001 (9/11), mantan diplomat senior Amerika Serikat (AS) Zalmay Khalilzad mengungkap sejumlah kesalahan kebijakan Washington setelah tragedi tersebut.
Khalilzad mengatakan ketakutan dan kemarahan yang melanda AS setelah serangan 9/11 mendorong serangkaian keputusan yang kemudian berdampak terhadap kebijakan luar negeri dan keamanan AS selama bertahun-tahun.
"Kemarahan menjadi salah satu faktor yang mendorong munculnya rasa mendesak karena masyarakat ingin melihat tindakan. Mereka bertanya, apa yang akan kita lakukan terhadap hal ini?" kata Khalilzad, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Sabtu, 12 September 2026.
Serangan 11 September 2001 menjadi serangan asing paling mematikan dalam sejarah AS. Hampir 3.000 orang tewas setelah 19 pembajak membajak pesawat penumpang dan menabrakkannya ke World Trade Center, Pentagon, serta sebuah lapangan di Pennsylvania.
Kurang dari sebulan kemudian, AS menginvasi Afghanistan dengan tujuan menghancurkan al-Qaeda, kelompok yang dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Invasi itu kemudian berkembang menjadi perang yang berlangsung hampir dua dekade.
Menyesal Tak Berunding dengan Taliban
Khalilzad mengetahui langsung proses pengambilan kebijakan pada masa tersebut. Ketika serangan 9/11 terjadi, ia menjabat sebagai direktur senior di Dewan Keamanan Nasional AS di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush.Dalam perjalanan kariernya, Khalilzad kemudian menjabat sebagai duta besar AS untuk Afghanistan, Irak, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia mengatakan salah satu hal yang disesalinya adalah keputusan AS untuk tidak melibatkan Taliban dalam proses politik Afghanistan setelah perang dimulai.
"Salah satu pemikiran yang muncul adalah bahwa kami seharusnya berunding dengan Taliban atau melibatkan Taliban dalam proses politik di Afghanistan. Akan lebih baik jika hal itu dilakukan," ujarnya.
Sejumlah laporan kemudian menyebut Taliban sempat terbuka terhadap kemungkinan kesepakatan dengan AS pada 2001, beberapa bulan setelah perang dimulai. Namun, kemungkinan tersebut tidak berlanjut.
Taliban kemudian terus memerangi pasukan yang didukung AS selama hampir dua dekade hingga Washington menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan pada 2021.
Tidak lama setelah penarikan tersebut, pemerintahan Afghanistan yang didukung AS runtuh dan Taliban kembali menguasai negara itu.
'Jika Tak Ada 9/11, Kami Tak Akan Serang Irak'
Dua tahun setelah invasi Afghanistan, AS memperluas apa yang disebut sebagai "perang melawan teror" dengan menginvasi Irak pada 2003.Pemerintahan Bush saat itu mendasarkan keputusan tersebut, antara lain, pada laporan intelijen yang menyatakan Irak memiliki senjata pemusnah massal dan kemampuan terkait program nuklir. Klaim tersebut kemudian terbukti keliru.
Perang Irak berlangsung lebih dari delapan tahun dan berakhir dengan penggulingan Saddam Hussein serta eksekusi mantan presiden Irak tersebut. Khalilzad mengatakan persoalan intelijen menjadi salah satu masalah utama dalam keputusan menyerang Irak.
"Jika tidak ada 11 September, saya rasa kami tidak akan menyerang Irak," katanya.
Menurut Khalilzad, kekhawatiran bahwa serangan serupa dapat kembali terjadi membuat kebijakan pembendungan terhadap Saddam Hussein berkembang menjadi keputusan untuk melancarkan perang dan menggulingkan rezimnya.
Menilai Taliban Beri Dampak Positif
Meski mengakui kesalahan dalam kebijakan Afghanistan, Khalilzad menilai hubungan dengan Taliban setelah kelompok tersebut kembali berkuasa justru memberikan dampak tertentu bagi kepentingan AS."Saya kira, secara mengejutkan, Taliban telah memberikan dampak positif bagi kepentingan AS dalam hal pemberantasan terorisme," ujarnya.
Pernyataan Khalilzad kembali menyoroti konsekuensi panjang dari keputusan yang diambil Washington setelah 9/11, ketika rasa takut terhadap serangan lanjutan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam kebijakan keamanan AS.
Seperempat abad kemudian, perang Afghanistan dan Irak menjadi bagian penting dari warisan kebijakan luar negeri AS pasca-9/11, sementara keputusan strategis yang diambil pada periode tersebut masih menjadi bahan evaluasi dan perdebatan. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Setelah 25 Tahun Berlalu, Tragedi 9/11 Masih Membayangi Warga AS