PM Australia Anthony Albanese Desak AS dan Tiongkok Capai Kesepakatan AI

PM Australia Anthony Albanese. (Anadolu Agency)

PM Australia Anthony Albanese Desak AS dan Tiongkok Capai Kesepakatan AI

Willy Haryono • 20 September 2026 20:00

Canberra: Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyerukan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, dua negara terdepan dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI), untuk mencapai kesepakatan mengenai teknologi tersebut.

Albanese menyampaikan seruan itu saat mengunjungi kantor pusat perusahaan teknologi Apple di Cupertino, California pada Minggu, 20 September 2026, dalam perjalanan menuju New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pekan depan.

Seruan tersebut disampaikan di tengah sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak dorongan untuk memperketat regulasi AI.

Albanese mendorong Washington dan Beijing bekerja sama dan mencapai kesepakatan yang serupa dengan Traktat Nonproliferasi Nuklir, yang ditandatangani pada 1970 untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.

“Faktanya, mereka adalah dua raksasa besar di sini, jadi kami ingin melihat adanya kerja sama,” kata Albanese, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Albanese mengatakan dirinya akan berbicara dengan para pemimpin yang memiliki pandangan serupa dalam Sidang Majelis Umum PBB mendatang mengenai aturan global untuk mengatur perkembangan AI yang berlangsung cepat.

Dia menyebut AI sebagai “fenomena global” dan mengatakan tidak ada pilihan untuk hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi tersebut.

“Perlu ada pembahasan mengenai kerangka global untuk pengembangan AI karena teknologi ini berkembang sangat cepat, dan kita perlu memastikan bahwa manusia tetap memegang kendali,” ujarnya.

Perdebatan mengenai kecepatan pengembangan AI kembali mengemuka setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan yang terkoordinasi. Seruan tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk.

Namun, Trump menolak seruan perlambatan tersebut. Dia berpendapat perlambatan pengembangan AI dapat memberikan keuntungan kepada China, yang merupakan pesaing utama AS dalam teknologi tersebut.

Menjelang pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih, Trump kembali menegaskan pandangannya. Dia menyatakan akan membentuk “AI Force” untuk melindungi teknologi tersebut dari “kehancuran atau kerusakan."

Baca juga: Trump Akan Bentuk 'Pasukan AI' untuk Tangani Perkembangan Kecerdasan Buatan

(Willy Haryono)