Kebakaran Lahan Gambut di Ketapang Terkendala Sumber Air

Foto udara kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar (ANTARA/HO : Walhi Kalbar)

Kebakaran Lahan Gambut di Ketapang Terkendala Sumber Air

Elvina Sihombing • 15 September 2026 08:13

Ketapang: Petugas gabungan masih berjibaku memadamkan titik api di lahan gambut Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Ketapang, Kalimantan Barat. Minimnya sumber air menjadi kendala utama. 

"Tantangan pertama ini debit air yang sangat sedikit sekali," kata Anggota Damkar BPBD Ketapang Handika, di Ketapang, Selasa, 15 September 2026. 

Ia mengatakan hampir tiga bulan Ketapang minim hujan sehingga membuat debit air di parit dan sumber air sekitar lokasi terus menyusut. Untuk menjangkau titik kebakaran, petugas harus mengangkut pompa dan selang dengan bobot puluhan kilogram.


Selang disambung satu per satu, kemudian ditarik dengan berjalan kaki sejauh sekitar 400 meter dari sumber air menuju lahan yang terbakar.

Tak hanya kekurangan air, angin kencang juga menjadi kendala bagi petugas. Hembusan angin menerbangkan asap dan abu dari lahan gambut, serta membuat arah asap berubah-ubah saat pemadaman berlangsung.

"Angin kadang ke selatan, kadang ke timur jadi sangat berpengaruh kepada kita yang tim pemadam bagi tribut," ungkapnya. 


Para relawan saat memadamkan api di Jalan Parit H Mukhsin, Kabupaten Kubu Raya, pada Selasa, 1 September 2026. ANTARA/HO-Sucia Lucinda


Dampak kebakaran juga terlihat dari memburuknya kualitas udara di Ketapang. Indeks kualitas udara mencapai skor 152, berlabel merah, atau masuk kategori tidak sehat.

Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama oleh ibu hamil, bayi dan balita, lansia, serta warga dengan riwayat asma dan gangguan pernapasan.

(Silvana Febiari)