Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)
Trump Minta Negosiator AS Tak Terburu-buru Capai Kesepakatan dengan Iran
Muhammad Reyhansyah • 25 May 2026 10:29
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya telah memerintahkan para negosiator AS agar "tidak terburu-buru mencapai kesepakatan" dengan Iran setelah sebelumnya menyebut perjanjian kedua negara sudah hampir tercapai.
Mengutip dari kantor berita BBC, Senin, 25 Mei 2026, kesepakatan yang tengah dibahas dilaporkan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta rencana negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran.
Dalam unggahan di media sosial, Trump mengatakan pembicaraan berlangsung "konstruktif," namun kedua pihak harus meluangkan waktu agar hasilnya tepat.
Trump pada Sabtu sebelumnya mengatakan kesepakatan tersebut "sebagian besar telah dinegosiasikan," memicu spekulasi bahwa pengumuman resmi akan segera dilakukan.
Pejabat Iran juga memberi sinyal adanya kemajuan dalam negosiasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan kedua pihak kini berada "sangat dekat sekaligus sangat jauh" dari tercapainya kesepakatan.
Media AS melaporkan kesepakatan yang sedang dibahas bukanlah penyelesaian final karena sejumlah isu sensitif masih akan dinegosiasikan lebih lanjut.
Isu tersebut meliputi tuntutan Iran terkait pencabutan sanksi, pembebasan dana Iran yang dibekukan, serta tuntutan Washington agar Teheran membatasi ambisi nuklirnya.
Partai Republik Terbelah soal Kesepakatan
Rencana kesepakatan itu memicu perpecahan di internal Partai Republik. Senator Ted Cruz menyebut kesepakatan tersebut akan menjadi "kesalahan besar yang menghancurkan."Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker mengatakan gencatan senjata 60 hari akan membuat seluruh hasil "Operation Epic Fury" menjadi sia-sia.
Namun anggota Komite Urusan Luar Negeri DPR AS Mike Lawler menilai pemerintahan Trump berhasil memaksa Iran masuk ke dalam "negosiasi sungguhan."
Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar terhadap Iran pada 28 Februari yang memicu konflik di Timur Tengah.
Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel dan negara-negara Teluk sekutu AS serta secara efektif menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Setelah gencatan senjata dicapai pada awal April, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Trump mengatakan blokade itu akan tetap berlaku penuh sampai kesepakatan dicapai dan ditandatangani.
Dalam unggahannya pada Minggu, Trump kembali menegaskan Iran tidak boleh mengembangkan senjata nuklir. Teheran berulang kali mengatakan program nuklirnya hanya bertujuan damai.
Sejumlah laporan media AS menyebut kesepakatan itu dapat mencakup penyerahan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran.
Iran diperkirakan memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah lagi menuju tingkat 90 persen yang dapat digunakan untuk membuat bom nuklir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya siap "meyakinkan dunia bahwa kami tidak mengejar senjata nuklir."
Kemajuan Signifikan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya mengatakan kemajuan yang dicapai dalam negosiasi bersifat "signifikan" meski belum final. Ia juga mengisyaratkan perkembangan dalam 48 jam terakhir dapat membuka kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya.Baghaei pada Sabtu mengatakan Iran tengah menyelesaikan "memorandum of understanding" yang akan membuka jalan bagi pembicaraan tambahan menuju kesepakatan final.
Trump juga menyebut kesepakatan itu sebagai "memorandum of understanding" dalam unggahan di Truth Social.
Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar yang menjadi mediator perundingan mengatakan perkembangan terbaru memberi "alasan untuk optimistis" bahwa hasil positif sudah berada dalam jangkauan.
Baca juga: Trump Pertahankan Blokade Maritim hingga Kesepakatan dengan Iran Ditandatangani