Dasman, pengemudi Transjakarta rute 1H Tanah Abang-Gondangdia sedang mengemudikan busnya di Jakarta. Foto: ANTARA/Sean Filo Muhamad.
Pengorbanan Sunyi Para Perantau, Bertahan Demi Senyum Keluarga di Kampung Halaman
Fachri Audhia Hafiez • 24 March 2026 09:07
Jakarta: Saat jutaan warga eksodus meninggalkan Jakarta menuju akar mereka di berbagai daerah, ibu kota mendadak sunyi. Gedung pencakar langit seolah tertidur, namun kota ini tidak benar-benar mati.
Di sudut-sudut jalan dan balik meja layanan, masih ada mereka yang dijuluki "pemain utama", yakni para perantau yang memilih bertahan, menukar jatah mudik dengan peluh keringat demi memastikan kebahagiaan keluarga di seberang pulau tetap terjaga.
"Enggak apa-apa saya enggak pulang, asal keluarga bisa Lebaran dengan tenang dan nggak mikirin uang," ucap Dasman, 50, seorang pramudi bus Transjakarta rute 1H Tanah Abang-Gondangdia, ditemui di sela tugasnya, dilansir Antara, Selasa, 24 Maret 2026.
Dasman adalah potret nyata pengorbanan seorang ayah. Pria asal Padang, Sumatra Barat, ini memilih melewatkan tradisi pulang basamo demi mengejar uang lembur.
Baginya, kalkulasi ekonomi di hari raya jauh lebih membumi daripada memaksakan mudik dengan biaya tinggi. Ia rela membelah jalanan Jakarta yang lengang agar istri dan anak-anaknya di Ranah Minang bisa merayakan Idulfitri tanpa beban finansial.
Kisah serupa terukir di sebuah minimarket kawasan Stasiun Gondangdia. Anwar, pemuda asal Cianjur, Jawa Barat, tampak cekatan melayani pelanggan di balik mesin pemindai.

Anwar, petugas salah satu minimarket di Stasiun Gondangdia tengah merapikan etalase produk dagangan di Jakarta. Foto: ANTARA/Sean Filo Muhamad.
Sudah tiga tahun ia absen dari kemeriahan malam takbiran di kampungnya. Strateginya tetap sama, yaitu bekerja di hari H untuk meraup kompensasi libur nasional, lalu pulang saat arus mudik mulai berbalik arah.
Bagi Anwar, bekerja di saat orang lain bersukacita adalah bentuk bakti nyata. Uang tambahan yang ia kumpulkan menjadi tiket bagi sanak saudaranya di Cianjur untuk menikmati hidangan lebaran yang layak.
Ia mengesampingkan ego masa mudanya demi memastikan raga yang tak hadir bisa digantikan dengan kesejahteraan bagi orang tua tercinta.
Tak hanya di sektor transportasi dan ritel, pengabdian di ruang spiritual juga ditunjukkan oleh Abi. Sebagai amil zakat di Masjid Istiqlal, pria asal Bandung ini harus bersiaga penuh hingga detik-detik terakhir menjelang salat Id.
Ia berpacu dengan waktu menyalurkan zakat kepada para mustahik agar amanah umat sampai tepat pada waktunya.

Abi, amil zakat di Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Masjid Istiqlal sedang menerima zakat milik salah seorang umat Muslim di Jakarta. Foto: ANTARA/Sean Filo Muhamad.
Meski rindu Kota Kembang terus membayangi, Abi menjalani tugas berat ini dengan hati ringan. Ia memandang profesinya sebagai jalan spiritual ganda, yakni membersihkan harta umat sekaligus menafkahi anak istri dengan cara yang paling mulia. Keikhlasannya menjadi energi yang terus menyala di serambi masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Dasman, Anwar, dan Abi adalah wajah-wajah di balik layar yang menjaga denyut nadi Jakarta tetap berdetak. Mereka membuktikan bahwa Idulfitri bukan sekadar tentang perjalanan fisik menuju kampung halaman, melainkan tentang cinta, tanggung jawab, dan perjuangan tanpa batas untuk mereka yang tercinta.