Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: Press TV
Pezeshkian Tegaskan Iran Hanya Akan Negosiasi Sesuai Hukum Internasional
Muhammad Reyhansyah • 14 April 2026 11:53
Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya hanya akan melanjutkan perundingan dalam kerangka hukum dan regulasi internasional.
Presiden Pezeshkian menekankan komitmen Teheran terhadap diplomasi, stabilitas kawasan, dan perlindungan hak nasional di tengah konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Senin, 13 April 2026, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap berpegang pada prinsip-prinsip hukum internasional.
“Republik Islam Iran siap melanjutkan perundingan semata-mata dalam kerangka hukum dan regulasi internasional serta dengan tujuan melindungi hak-hak rakyat Iran,” ujarnya, dikutip dari PressTV.
Ia juga menyatakan bahwa Eropa dapat memainkan peran konstruktif dengan mendorong Washington untuk menghormati kerangka hukum tersebut.
Dalam pembicaraan itu, kedua pemimpin membahas perkembangan terbaru di kawasan, hasil perundingan di Islamabad, serta proses gencatan senjata.
Pezeshkian menyoroti keseriusan dan itikad baik tim negosiasi Iran selama pembicaraan di Pakistan. Namun, ia menilai sikap berlebihan dan kurangnya kemauan politik dari pejabat tinggi AS menjadi hambatan tercapainya kesepakatan.
“Meskipun telah tercapai sejumlah pemahaman di tingkat teknis, sikap berlebihan dan kurangnya kemauan politik dari pejabat tinggi Amerika Serikat telah menghalangi finalisasi kesepakatan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Iran telah menetapkan syarat-syarat gencatan senjata dan akan mematuhinya secara ketat, serta menolak klaim yang dianggap tidak berdasar terkait posisi Teheran.
Presiden Iran juga kembali menegaskan kebijakan negaranya untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan keamanan kawasan, sekaligus mendorong interaksi konstruktif dengan negara-negara tetangga.
Menurutnya, pendekatan yang mengandalkan ancaman, tekanan, dan aksi militer tidak akan menyelesaikan masalah, melainkan justru memperumit situasi.
Peringatan soal Selat Hormuz
Menanggapi ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap Selat Hormuz, Pezeshkian memperingatkan dampak serius yang dapat timbul.“Republik Islam Iran selalu berupaya memastikan keamanan berkelanjutan bagi pelayaran di jalur strategis ini, dan setiap ancaman terhadap keamanan kawasan ini akan berdampak luas terhadap perdagangan global,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Iran siap menghadapi berbagai kemungkinan untuk melindungi kepentingan nasionalnya.
Isu Nuklir dan Peran Eropa
Terkait program nuklir, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran sebelumnya telah mencapai sejumlah kesepakatan dengan negara-negara Eropa yang kerangkanya masih jelas hingga saat ini.“Iran tidak pernah bertindak di luar aturan internasional dan tetap siap melanjutkan perundingan dalam kerangka yang sama,” katanya.
Ia juga menolak standar ganda dalam hubungan internasional dan menyerukan penyelesaian berbagai isu berdasarkan prinsip keadilan serta aturan yang diakui secara universal, sembari mendorong Eropa mengambil peran yang lebih aktif dan bertanggung jawab.
Dalam percakapan tersebut, Presiden Macron menyampaikan hasil konsultasinya dengan Presiden AS serta menekankan pentingnya memasukkan isu Lebanon dalam kerangka awal gencatan senjata.
Ia juga menyampaikan pandangannya terkait berkas nuklir Iran dan perkembangan mengenai rezim hukum Selat Hormuz.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat dan komandan Iran.Sebagai respons, Iran melancarkan Operasi True Promise 4 dengan serangan rudal dan drone harian yang menargetkan wilayah yang diduduki Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
Iran juga membatasi akses Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang berafiliasi dengan pihak lawan serta pendukungnya, sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jalur strategis tersebut.
Amerika Serikat kemudian menerima proposal 10 poin dari Iran pada 8 April sebagai dasar menuju gencatan senjata permanen.
Namun, pada 12 April, perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan setelah lebih dari 20 jam pembicaraan, yang disebut dipicu oleh tuntutan berlebihan dari pihak Amerika.