Bapanas: Distribusi 1,65 Juta Ton CBP Tekan Harga Beras di Tengah Ancaman El Nino

Seorang pekerja tengah mengangkat beras di gudang Bulog. Foto: dok MI.

Bapanas: Distribusi 1,65 Juta Ton CBP Tekan Harga Beras di Tengah Ancaman El Nino

Husen Miftahudin • 23 August 2026 10:11

Jakarta: Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran 1,65 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) sepanjang Januari-Agustus 2026 menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan perkembangan harga beras.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan realisasi distribusi CBP tersebut diharapkan mampu menahan tekanan terhadap harga beras di tengah tantangan cuaca, termasuk fenomena El Nino.

"Realisasi distribusi cadangan beras pemerintah telah mencapai 1,65 juta ton, kami optimistis mampu mengerem perkembangan harga," kata Ketut saat dikonfirmasi di Jakarta, dikutip dari Antara, Minggu, 23 Agustus 2026.

Menurut Ketut, kondisi perberasan nasional masih relatif terkendali meskipun El Nino mulai melanda pada Juli dan Agustus 2026 yang bertepatan dengan puncak musim kemarau.

Ketut juga mengatakan pemerintah meyakini inflasi beras tidak akan mengalami lonjakan seperti yang terjadi pada periode El Nino 2023 dan 2024. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras secara bulanan pernah meningkat signifikan hingga mencapai 5,61 persen pada September 2023 dan 5,32 persen pada Februari 2024.

Kondisi tersebut terjadi di tengah musim kemarau dan dampak El Nino pada periode tersebut. Namun, pemerintah menilai kesiapan menghadapi El Nino pada 2026 lebih baik.
 

 

Penyaluran CBP naik signifikan


Ketut menjelaskan, hingga 21 Agustus 2026, pemerintah telah menyalurkan CBP sebanyak 1,65 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 20,43 persen dibandingkan penyaluran CBP sepanjang Januari-Agustus 2023 yang mencapai 1,37 juta ton.

Dibandingkan periode Januari-Agustus 2025, realisasi penyaluran CBP 2026 meningkat 161,49 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, penyaluran CBP tercatat 631,58 ribu ton.

Sementara itu, total stok CBP yang dikelola Perum Bulog per 21 Agustus 2026 mencapai 5,17 juta ton. Stok tersebut meningkat 291,66 persen dibandingkan posisi CBP pada Agustus 2023 yang tercatat 1,32 juta ton.

Bapanas melakukan pengendalian harga beras melalui percepatan penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di pasar serta bantuan pangan yang disalurkan Bulog selama tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga Indeks Perkembangan Harga (IPH) tetap terkendali.

Adapun penyaluran CBP sepanjang Januari-Agustus 2026 yang mencapai 1,65 juta ton terdiri atas beberapa program. Penjualan beras program SPHP pada Januari-Februari mencapai 221,05 ribu ton. Selanjutnya, realisasi SPHP beras pada Maret-Agustus mencapai 678,12 ribu ton.

Selain itu, bantuan pangan tahap pertama mencapai 662,86 ribu ton, sedangkan bantuan pangan tahap kedua yang mulai berjalan mencapai 32,25 ribu ton.

Penyaluran lainnya terdiri atas bantuan untuk bencana dan keadaan darurat sebesar 11,39 ribu ton serta penyaluran untuk golongan anggaran sebesar 53,68 ribu ton.


(Ilustrasi, salah satu bentuk penyaluran beras kepada masyarakat lewat bantuan beras. Foto: dok MI/Ramdani)
 

Pemerintah tanggung intervensi perberasan


Ketut memastikan seluruh program intervensi perberasan yang dilakukan Perum Bulog ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.

"Ini karena kita menguasai beras banyak. Tentu harusnya segera bisa kita lakukan intervensi secepatnya, di mana pun di Indonesia. Ini karena sekali lagi semua yang dilakukan dalam SPHP, pengeluarannya diganti oleh pemerintah," kata Ketut.

Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi bentuk dukungan pemerintah bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan dari tekanan harga pangan.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi fenomena El Nino. Menurut Amran, kesiapan pangan saat ini didukung oleh stok CBP lebih dari 5 juta ton tanpa mengandalkan impor.

"Dulu pernah El Nino (tahun) 2016, kita selamat. Jadi dulu saja dalam waktu singkat, kita bisa bertahan. Apalagi sekarang dengan pengalaman El Nino sampai tiga kali. Tapi (El Nino) 2023 dan 2024, itu persiapan agak kurang, sehingga impornya 7 juta ton. Sekarang kita sudah persiapkan El Nino, stok (CBP) kita 5,2 juta ton," ucap Amran.

(Husen Miftahudin)