Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam rapat koordinasi di Gempa NTT di Kabupaten Manggarai Barat. Dokumentasi BNPB
Update Gempa NTT Senin 24 Agustus, 100 Meninggal 1.603 Terluka
Whisnu Mardiansyah • 24 August 2026 16:59
Jakarta: Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencapai 100 orang hingga Senin, 24 Agustus 2026. Sebagian korban sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, tetapi nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan pada hari pertama dan kedua setelah gempa tercatat 48 orang meninggal dunia. Jumlah tersebut kemudian bertambah setelah sejumlah korban luka berat yang menjalani perawatan meninggal dunia.
“Kemudian, untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan bahwa yang meninggal 100 ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua, ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi 100 yang meninggal dunia," kata Suharyanto dalam konferensi persnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 orang masih mengungsi. Data sementara BNPB menunjukkan sebanyak 73.818 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan tersebut terdiri atas 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rumah rusak sedang, dan 32.979 rumah rusak ringan.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum. BNPB mencatat 1.915 fasilitas umum terdampak, meliputi sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan, serta sejumlah infrastruktur lainnya.
Suharyanto menegaskan data korban dan kerusakan masih bersifat sementara. Proses pendataan terus dilakukan di lapangan dan hasilnya akan diperbarui sesuai perkembangan.
Pendataan dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kampung, rukun tetangga (RT), desa, kecamatan, hingga kabupaten. Data tersebut kemudian dihimpun pada tingkat nasional.
Selain dampak korban dan kerusakan, aktivitas gempa susulan masih terjadi di wilayah Flores. Suharyanto mengatakan berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Senin pagi tercatat 6.409 kali gempa. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1.
Dari total aktivitas tersebut, sebanyak 33 gempa tercatat memiliki magnitudo 5 atau lebih. Sementara itu, gempa yang dirasakan masyarakat tercatat sebanyak 139 kali.

Proses evakuasi penyintas bernama Yohanis Riba (75) yang mengalami memar kaki setelah tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa M 7,7 Flores di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka. (Dokumentasi/ BNPB)
Aktivitas gempa susulan membuat sebagian warga masih memilih bertahan di luar rumah. Kondisi tersebut juga terjadi pada masyarakat yang rumahnya tidak terdampak maupun hanya mengalami kerusakan ringan.
“Ini mengakibatkan sampai hari ke-8 terjadinya gempa Flores ini, masyarakat masih banyak yang takut, sehingga tetap mengungsi di luar rumah, meskipun rumah-rumahnya tidak terdampak atau rusak ringan,' ujarnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut Suharyanto, aktivitas gempa dalam dua hari terakhir mulai mengalami penurunan. Dalam 24 jam terakhir, hanya tercatat satu gempa yang dirasakan masyarakat.
Meski aktivitas mulai berkurang, Suharyanto menyampaikan BMKG masih memperkirakan gempa susulan dapat berlangsung hingga tiga atau empat minggu ke depan sebelum kondisi semakin stabil.
BNPB bersama unsur terkait masih melakukan pemantauan serta pendataan dampak bencana di wilayah terdampak. Pembaruan data akan dilakukan seiring proses verifikasi di lapangan.