Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono. Foto: Badan Komunikasi Pemerintah.
Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh, Target Pertumbuhan Di Atas 5,5%
Fachri Audhia Hafiez • 5 May 2026 14:45
Jakarta: Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional mampu menembus angka di atas 5,5% pada Triwulan I 2026. Optimisme ini didorong oleh realisasi investasi yang mencapai Rp498,79 triliun serta performa sektor manufaktur yang terus berada di zona ekspansi sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.
“Hingga bulan Maret 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar USD 5,55 miliar. Surplus sepanjang periode Januari-Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas USD 10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 4 Mei 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kumulatif periode Januari-Maret 2026 menyentuh USD66,85 miliar, dengan sektor industri pengolahan sebagai motor penggerak utama.
Pencapaian ini sekaligus menandai surplus neraca perdagangan Indonesia yang terjadi selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Di sisi lain, belanja modal pemerintah pusat juga melonjak signifikan sebesar 36,7% secara tahunan menjadi Rp35,42 triliun, yang memperkuat struktur ekonomi domestik.
Aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat juga menunjukkan geliat positif melalui peningkatan perjalanan wisatawan nusantara yang mencapai 319,51 juta perjalanan, naik 13,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren ini menjadi cerminan daya beli masyarakat yang tetap terjaga meskipun dibayangi ketidakpastian global.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Mengenai kondisi harga, inflasi tahunan pada April 2026 berada di level 2,42%. Meski terdapat kenaikan tarif angkutan udara dan harga bensin, tekanan inflasi berhasil diredam oleh deflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Beberapa komoditas juga ada yang memberikan andil deflasi diantaranya daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, emas perhiasan dengan andil deflasi 0,09 persen, cabai rawit serta telur ayam ras masing-masing 0,06 persen dan 0,04 persen,” kata Ateng.