Ukraina dan Rusia terlibat dalam pertempuran sengit. Foto: Guardian
Putus Pasokan Krimea, Militer Ukraina Gempur Puluhan Kapal Rusia di Laut Azov
Muhammad Reyhansyah • 10 July 2026 19:57
Kyiv: Militer Ukraina memperluas serangannya terhadap jalur logistik Rusia menuju Krimea dengan menargetkan kapal-kapal di Laut Azov.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Kyiv untuk memutus jalur pasokan ke wilayah yang dianeksasi Rusia tersebut.
Mengutip BBC, Jumat, 10 Juli 2026, Komandan Pasukan Drone Ukraina Robert Brovdi, yang dikenal dengan nama "Magyar", mengatakan sedikitnya 25 kapal telah diserang dan terbakar dalam empat hari terakhir di Laut Azov.
Sementara militer Ukraina mengklaim total 36 kapal menjadi sasaran serangan, meski jumlah tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Menurut Brovdi, sejumlah kapal tanker yang diserang mengangkut ribuan ton bahan bakar dari wilayah Taganrog menuju Krimea. Ukraina menilai operasi itu merupakan fase terbaru dari strategi "logistics lockdown" atau blokade logistik untuk menghambat arus pasokan Rusia ke semenanjung tersebut.
Serangan terbaru juga menyasar kapal tanker dan kapal pengangkut di sekitar Pelabuhan Kerch serta sebuah kapal tanker yang dikenai sanksi di dekat Yalta menggunakan drone laut.
Pada saat yang sama, Ukraina terus menggempur kilang minyak dan depot bahan bakar Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, serangan terhadap infrastruktur energi merupakan respons atas serangan Rusia ke wilayah Ukraina dan bertujuan membuat Rusia merasakan dampak perang yang mereka lakukan.
Media Rusia melaporkan dua kapal tanker kosong diserang di Teluk Taganrog pada Rabu, sementara sejumlah saluran Telegram pro-perang mengakui armada Laut Hitam Rusia semakin kesulitan melindungi jalur logistik laut.
Serangan-serangan tersebut terjadi ketika Rusia tengah menghadapi gangguan pasokan bahan bakar di berbagai wilayah. Pemerintah Rusia bahkan telah melarang ekspor solar, sementara antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dilaporkan mulai terjadi di beberapa kota besar.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Krimea membutuhkan sekitar 70.000 ton bahan bakar setiap bulan dan berjanji meningkatkan pengiriman melalui jalur darat maupun laut. Namun, serangan terbaru Ukraina menunjukkan kedua jalur pasokan tersebut kini sama-sama berada di bawah ancaman.