Pengelolaan sampah/Ilustrasi Istimewa
PSEL Bali Langkah Strategis Kendalikan Sampah dan Emisi
M Sholahadhin Azhar • 9 July 2026 15:22
Jakarta: Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali menjadi langkah strategis. Terutama, untuk mempercepat penanganan persoalan sampah sekaligus memperkuat pengendalian dampak lingkungan di Pulau Dewata.
“Yang perlu diperhatikan adalah control emission system atau sistem pengendalian emisinya. Insineratornya harus teruji dan emisi yang ditimbulkan dapat dikendalikan,” kata Ketua Harian Perkumpulan Ahli Lingkungan Indonesia atau Indonesian Environmental Scientist Association (IESA) Lina Tri Mugi Astuti di Jakarta, dikutip Kamis, 9 Juli 2026.
Lina mengatakan PSEL relevan dengan kondisi pengelolaan sampah saat ini, terutama ketika pemilahan dari sumber belum berjalan optimal. Menurut dia, penumpukan sampah secara terbuka atau open dumping berpotensi melepaskan gas metana secara tidak terkendali dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
“Ketika dilakukan open dumping, masalah utamanya berkaitan dengan perubahan iklim. Gas metana terlepas secara tidak terkendali dan berpotensi besar menyumbang gas rumah kaca. Berbeda ketika sampah dikelola,” kata Lina.
Ia menjelaskan PSEL dapat menggunakan beragam teknologi, mulai dari biogas hingga pirolisis. Namun, melihat karakteristik sampah yang belum sepenuhnya terpilah, teknologi insinerasi dinilai menjadi salah satu pilihan untuk mempercepat pengolahan sampah skala besar.
Di sisi lain, dia mengingatkan transformasi pengelolaan sampah perlu memperhatikan aspek sosial, termasuk keberadaan sektor informal yang selama ini menggantungkan mata pencaharian pada aktivitas pemilahan dan pengumpulan material bernilai ekonomi.
“Kalau kita bicara sisi lingkungan tanpa bicara sosial, persoalannya tidak selesai. Dampak terhadap pencemaran bisa dikendalikan, tetapi dampak sosial juga harus dikendalikan,” kata Lina.
Dalam jangka panjang, Lina menilai PSEL berpotensi memberikan dampak positif bagi lingkungan Bali apabila dibangun dan dioperasikan sesuai standar. Indikator yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah lingkungan yang semakin bersih dan berkurangnya sampah di ruang publik, termasuk kawasan pantai.
“Kalau PSEL sudah ada dan Bali tidak bersih, itu menjadi tanda tanya, terutama jika sampah masih terlihat di pantai. Pemerintah daerah tidak boleh diam. Pengumpulan sampah tetap harus dilakukan secara masif,” kata Lina.
Selain manfaat lingkungan, pengoperasian PSEL berpotensi memberikan efek berganda terhadap perekonomian. Yakni, melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan aktivitas ekonomi sirkular di sektor hulu.

Lina berharap PSEL Bali dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan. Tentunya, dengan diimbangi tata kelola yang transparan, pengawasan lingkungan yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Praktik pembangunan PSEL yang bersih harus menjadi tolok ukur. Kerja sama antara swasta dan pemerintah harus berjalan dengan baik. Dukungan regulasi dan kebijakan harus kuat,” ujar Lina.
Menurut dia, tata kelola yang baik sejak proses pengadaan, penyusunan amdal, pembangunan, hingga pengoperasian menjadi fondasi agar pengembang dapat bekerja secara profesional dan fokus memenuhi standar lingkungan.
“Kalau prosesnya bersih, developer atau investor tidak akan terganggu dengan hal-hal yang bersifat nonteknis. Mereka bisa bekerja dengan baik. Harapannya, sampah benar-benar dapat menjadi energi dan membantu menambah pasokan listrik,” kata Lina.