Waspada Banjir Rob di Pesisir NTT hingga Selasa 2 Juni

Ilustrasi - Kondisi perairan di pesisir Kota Kupang, Pulau Timor, NTT. ANTARA/Yoseph Boli Bataona

Waspada Banjir Rob di Pesisir NTT hingga Selasa 2 Juni

Whisnu Mardiansyah • 31 May 2026 12:51

Kupang: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir atau rob di berbagai daerah pesisir di Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Selasa, 2 Juni 2026, seiring dengan meningkatnya tinggi permukaan air laut.

"Masyarakat yang bermukim di wilayah terdampak diminta untuk waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir pesisir (rob) yang diprediksi akan berlangsung hingga tanggal 2 Juni 2026 di sejumlah kawasan pesisir di NTT," ujar Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Anderudson Tungga, dalam keterangan tertulisnya di Kupang, seperti dilansir Antara, Minggu, 31 Mei 2026.

Yandri menyebutkan bahwa daerah-daerah yang berpotensi mengalami banjir rob meliputi pesisir Pulau Flores-Alor, pesisir Pulau Sabu Raijua, pesisir Pulau Sumba, serta pesisir Pulau Timor-Rote.

Menurut penjelasannya, potensi banjir rob ini dipicu oleh fenomena fase bulan purnama yang terjadi pada tanggal 31 Mei 2026. Fase bulan tersebut dapat menyebabkan kenaikan permukaan air laut hingga mencapai titik tertinggi atau maksimum.
 


Lebih lanjut, berdasarkan hasil pemantauan terhadap prediksi pasang surut air laut, kecepatan angin, serta tinggi gelombang, kondisi tersebut dapat berdampak pada dinamika wilayah pesisir di NTT sehingga berpotensi memperbesar kemungkinan terjadinya genangan air laut di daratan.

Yandri juga menerangkan banjir pesisir atau rob adalah peristiwa meluapnya air laut ke daratan yang mengakibatkan genangan di kawasan sekitar pantai.

"Kondisi seperti ini berpotensi mengganggu berbagai aktivitas masyarakat di kawasan pesisir dan pelabuhan. Mulai dari kegiatan bongkar muat barang, aktivitas warga di permukiman pesisir, pengelolaan tambak garam, perikanan darat, hingga berbagai kegiatan ekonomi lainnya," ujarnya.


Ilustrasi banjir. Dok. Metrotvnews.com

Oleh karena itu, BMKG mengimbau agar masyarakat senantiasa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak dari pasang maksimum air laut. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan secara resmi oleh BMKG.

"Khusus bagi warga yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir yang berpotensi terdampak, agar selalu waspada dan mengikuti informasi resmi terbaru dari BMKG," kata Yandri.

(Whisnu M)