Puluhan biksu yang melakukan aksi jalan kaki lintas pulau dalam Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 dari Bali ke Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tiba di Yogyakarta pada Senin, 25 Mei 2026
Tiba di Yogyakarta, Sri Sultan Terima Kedatangan Puluhan Biksu Thudong
Ahmad Mustaqim • 25 May 2026 21:51
Yogyakarta: Puluhan biksu yang mengikuti aksi jalan kaki lintas pulau dalam rangkaian acara Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026, dengan rute perjalanan dari Bali menuju Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, telah tiba di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin, 25 Mei 2026. Para biksu tersebut diterima secara resmi oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.
Sri Sultan menyampaikan esensi dari perjalanan thudong lintas negara ini bukanlah sekadar pembuktian ketahanan fisik di tengah perjalanan, melainkan sebuah manifesto kemanusiaan yang kuat.
"Bagi saya pribadi, Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah simbolisasi langkah maju menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarpemeluk agama," ujar Sri Sultan.
Sri Sultan juga mengingatkan masyarakat luas mengenai hakikat penciptaan manusia yang beragam sebagai landasan untuk mempererat persaudaraan global. Di tengah perbedaan yang ada, ia menegaskan pentingnya rasa kemanusiaan.
"Memang Tuhan menciptakan makhluk yang berbeda-beda. Berbeda kulitnya, berbeda rasnya. Jadi, keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa," ujar Sultan.
Perjalanan para biksu tersebut mengusung misi perdamaian, toleransi, dan persaudaraan. Kegiatan IWFP 2026 ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE, yang puncak perayaannya akan dipusatkan di Candi Borobudur pada tanggal 31 Mei 2026.
Aksi jalan damai lintas pulau ini diikuti oleh total 57 peserta, yang terdiri dari 50 orang biksu asal luar negeri serta 7 orang peserta pendamping yang berasal dari Indonesia. Rincian asal para biksu tersebut meliputi 43 orang dari Thailand, 4 orang dari Malaysia, dan 3 orang dari Laos.
Rombongan spiritual ini dipimpin oleh seorang biksu bernama Phanarin Anando, yang saat ini baru menginjak usia 31 tahun. Rentang usia para peserta thudong ini tergolong sangat kontras, dengan biksu tertua berusia 67 tahun dan anggota rombongan termuda berusia 23 tahun.

Sebanyak 16 Biku melaksanakan perjalanan spiritual dari Candi Shima di Jepara menunu Candi Sewu di Yogyakarta. Metrotvnews.com/ Rhobi Shani.
Hingga tiba di Yogyakarta, para biksu harus berjalan kaki sejauh 30 hingga 40 kilometer setiap harinya sejak mereka memulai langkah dari Bali pada 9 April 2026. Mereka menghabiskan waktu sekitar 8 hingga 10 jam per hari di jalan raya, dengan menghadapi berbagai tantangan cuaca ekstrem di Pulau Jawa yang mencapai suhu 34 hingga 36 derajat Celsius.
Ketua Panitia IWFP 2026 DIY, Tandean Harry Setio, menggarisbawahi pentingnya momentum ini bagi citra positif wilayah Yogyakarta di mata internasional. Ia mengimbau seluruh masyarakat sipil untuk menunjukkan sikap ramah dan terbuka, sesuai dengan arahan yang telah disampaikan oleh jajaran kepala daerah.
"Ada imbauan dari Gubernur DIY dan Wali Kota Yogyakarta bahwa kita harus menyambut dan menunjukkan Jogja sebagai city of tolerance. Mari bersama-sama turut serta menyambut sebagai wujud penghormatan, toleransi, semangat persaudaraan, dan dukungan terhadap pesan-pesan perdamaian," kata Tandean Harry.