Toleransi Syiar Awal Penyebaran Islam, Tradisi Kurban Kerbau di Kudus Masih Dilestarikan

Hewan kurban kerbau di Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah. Metro TV

Toleransi Syiar Awal Penyebaran Islam, Tradisi Kurban Kerbau di Kudus Masih Dilestarikan

Udin Ali Nani • 27 May 2026 07:50

Kudus: Umumnya umat Muslim di Indonesia merayakan Iduladha dengan menyembelih sapi, kambing, ataupun domba sebagai hewan kurban. Namun suasana berbeda tampak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Di kota yang dijuluki sebagai kota kretek ini, masyarakat justru menjadikan kerbau sebagai hewan kurban utama. Tradisi bernilai toleransi ini masih dijaga kelestariannya sejak era Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Dalam momen hari raya kurban tersebut, warga masih menjalankan tradisi warisan leluhur yang telah mengakar kuat secara turun-temurun. Bukannya memotong sapi, masyarakat Kudus justru menyembelih kerbau.

Keputusan memilih kerbau sebagai hewan kurban bukanlah tanpa sebab. Tradisi ini memiliki jejak sejarah panjang yang berkaitan erat dengan dakwah Islam di tanah Jawa pada abad ke-16 yang dibawa oleh Syekh Ja'far Shadiq, atau yang lebih populer dengan gelar Sunan Kudus.

Ajaran Sunan Kudus yang melarang penyembelihan sapi dan menggantinya dengan kerbau merupakan wujud strategi dakwah penuh toleransi. Pada masa Sunan Kudus menyiarkan Islam, sebagian besar penduduk Jawa, terutama di wilayah Kudus, masih memeluk agama Hindu.

Bagi pemeluk Hindu, sapi adalah hewan yang disakralkan dan dimuliakan. Sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan umat Hindu tersebut, Sunan Kudus kemudian menganjurkan umat Islam untuk menggunakan kerbau sebagai hewan kurban.

 


"Tradisi yang berlangsung selama ini memiliki kaitan erat dengan dakwah Sunan Kudus pada zamannya. Karena pada masa itu banyak masyarakat yang masih beragama Hindu dan sapi termasuk hewan yang dihormati. Oleh sebab itu, Kanjeng Sunan Kudus menganjurkan hal ini sebagai wujud toleransi atau penghormatan terhadap umat Hindu. Tradisi ini masih kami lestarikan sampai sekarang," ujar Muhammad Faqol Ahzab, panitia kurban Menara Kudus, di Kudus, Rabu, 27 Mei 2026.

Hingga saat ini, warga Kudus masih teguh memegang tradisi menyembelih kerbau. Meski demikian, ada pula sebagian masyarakat yang menyembelih kambing atau domba. Warga Kudus yang berkurban mengungkapkan bahwa sejak dulu kerbau memang menjadi pilihan utama untuk disembelih saat Iduladha, lalu dagingnya dibagikan kepada khalayak ramai.

Selain sebagai upaya melestarikan warisan leluhur, warga Kudus juga meyakini bahwa daging kerbau memiliki serat yang lebih rapat dan cita rasa yang lebih gurih dibandingkan daging sapi. Karena itulah, tradisi menyembelih kerbau tetap terjaga hingga sekarang. Tak hanya itu, para pedagang kerbau juga menuai untung besar saat momen Iduladha dengan omzet penjualan yang mencapai ratusan ekor kerbau.


Ilustrasi hewan kurban Medcom.id

"Harga saat ini mulai dari 23 juta sampai 30 juta ke atas dengan bobot minimal 4 kuintal. Kemarin dalam dua pekan terakhir saya laku seratus ekor. Alasannya memilih kerbau karena sejak zaman dulu, dari para wali, sudah ada tradisi tidak boleh memotong sapi. Ini warisan tradisi Sunan Kudus," tutur Karsum, seorang penjual kerbau.

Meskipun ajaran untuk tidak menyembelih sapi masih dijunjung tinggi oleh sebagian besar warga Kudus, dewasa ini sudah mulai bermunculan umat Muslim di Kudus yang menyembelih sapi. Sebagaimana diketahui, dalam syariat Islam, sapi dan kerbau sama-sama termasuk hewan ternak yang halal untuk disembelih, baik untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari maupun sebagai hewan kurban pada saat Iduladha.

(Whisnu M)