Ilustrasi Pexels
Anak Biasa Main Gadget, Dokter Ingatkan Dampak Perilaku Mirip Autis
Muhamad Marup • 26 April 2026 11:22
Jakarta: Di era teknologi digital saat ini, gadget jadi solusi orang tua untuk mengatasi anak yang rewel. Padahal, tumbuh kembang anak butuh interaksi secara langsung terutama dengan orang tua dan lingkungan sekitar.
Dokter Spesialis Anak, Dewi Kartika (Deka), mengatakan, interaksi anak dengan gadget harus diminamilisasi sejak dini. Menurutnya, jika anak terbiasa berinteraksi dengan gadget, maka anak memiliki kecenderungan berprilaku mirip anak autis.
"Autis, ADHD itu kan sebenernya bawaan lahir ya. Tapi ketika dia terlalu banyak nonton (lewat gadget) di bawah 2-4 tahun, itu kita mungkin akan mengira dia seperti anak autis. Autistic like," ujar Dokter Deka, dalam diskusi bertajuk Empowering Women, Nurturing the Future, di Mika School BSD, Sabtu, 25 April 2026.
Baca Juga :
Bekal Kemandirian Bagi Anak Autis
Dokter Deka menambahkan, angka gangguan bicara atau speech delay anak terus mengalami peningkatan. Meski anak yang biasa berinteraksi dengan gadget bisa berkomunikasi, ia menyebut proses interaksinya akan terhambat.
"Jadi interaksinya itu yang harus dikuatkan di dua tahun pertama. Kalau enggak, dia biasanya speech delay," jelasnya.
Dokter Deka menambahkan, jika anak terbiasa menonton tayangan melalui gadget, anak tidak akan tertarik dengan dunia luar. Dengan demikian, aktivitas motorik anak juga terdampak karena jarang bergerak.
"Kalau dia sudah terlalu banyak melihat yang seru-seru, berwarna-warni di TV. Ketika dia keluar, dia lihat truk aja udah gak seru gitu," terangnya.
Tantangan Pengasuhan
Sementara itu, Co-Founder Mika Daycare and Preschool Marta Yuliana mengatakan pihaknya memahami berbagai tantangan yang dihadapi para orang tua dalam menjalankan perannya. Terlebih para perempuan pekerja yang sulit menyeimbangkan peran profesional dan keluarga.
Empowering Women, Nurturing the Future, di Mika School BSD. Foto Muhamad Marup
Ia menerangkan, pihaknya berfokus pada pengembangan anak secara holistik melalui pendekatan play-based learning yang terstruktur. Mika juga mengedepankan sistem komunikasi yang transparan kepada orang tua melalui laporan perkembangan anak serta dokumentasi aktivitas harian yang dapat diakses melalui aplikasi.
"Mika hadir sebagai support system yang memungkinkan orang tua bekerja dengan lebih tenang karena anak-anak mereka berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembangnya," kata Marta.