Gambar: Magnific
BMKG Prediksi Awan Cumulonimbus, Ini Wilayah Berpotensi Hujan Lebat 2–8 September 2026
Riza Aslam Khaeron • 1 September 2026 13:47
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 2–8 September 2026.
Berdasarkan prakiraan BMKG, beberapa daerah diperkirakan mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan yang cukup luas sehingga berpotensi memicu hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Apa Itu Awan Cumulonimbus?

Ilustrasi: Natalya Cotenko/Pexels
Awan Cumulonimbus atau CB merupakan jenis awan yang tumbuh menjulang tinggi secara vertikal dan sering dikaitkan dengan cuaca ekstrem. Menurut BMKG, awan ini dapat menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, petir, kilat, angin kencang, bahkan hujan es pada kondisi tertentu.
Pertumbuhan awan Cumulonimbus umumnya terjadi ketika udara hangat dan lembap bergerak naik ke atmosfer, kemudian mengalami kondensasi hingga membentuk awan yang berkembang sangat tinggi.
Pertumbuhan awan Cumulonimbus dapat memicu hujan lebat dalam waktu singkat, petir, angin kencang, serta gelombang tinggi di wilayah perairan.
Kategori Potensi Pertumbuhan Awan Cumulonimbus BMKG
BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus menjadi tiga kategori berdasarkan cakupan spasial maksimum:- ISOL CB (Isolated Cumulonimbus): Pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan area kurang dari 50%.
- OCNL CB (Occasional Cumulonimbus): Pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan area sekitar 50–75%.
- FRQ CB (Frequent Cumulonimbus): Pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan area lebih dari 75%.
Kategori Frequent (FRQ)
Dilansir dari laman BMKG, kategori Frequent (FRQ) menunjukkan potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan spasial lebih dari 75%.Wilayah yang diprediksi masuk kategori ini pada 2–8 September 2026 meliputi Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Selat Malaka bagian utara, dan Sumatra Utara.
Wilayah-wilayah tersebut memiliki peluang lebih tinggi mengalami pertumbuhan awan Cumulonimbus secara luas dibandingkan daerah lainnya selama periode prakiraan.
Kategori Occasional (OCNL)
Sementara itu, kategori Occasional (OCNL) menunjukkan pertumbuhan awan Cumulonimbus dengan cakupan area sekitar 50–75%.BMKG memprakirakan kondisi ini terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Laut Natuna Utara, Laut Arafuru bagian tengah, Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, Samudra Pasifik utara Papua, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, Selat Malaka bagian tengah, dan Selat Malaka bagian utara.
Daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan secara berkala selama periode prakiraan. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah secara dinamis selama periode prakiraan 2–8 September 2026.
(Siti Nahdia Usman)