Mengenal Himawari-9, Satelit yang Digunakan BMKG untuk Pemetaan Cuaca

Gambar satelit Himawari-9 IR Enhanced. (BMKG)

Mengenal Himawari-9, Satelit yang Digunakan BMKG untuk Pemetaan Cuaca

Riza Aslam Khaeron • 31 August 2026 13:39

Jakarta: Satelit menjadi salah satu teknologi yang dimanfaatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi cuaca dan atmosfer di Indonesia.

Melalui citra satelit, kondisi awan dan berbagai fenomena atmosfer dapat diamati dalam cakupan wilayah yang luas. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis kondisi cuaca di Indonesia. Salah satu satelit yang digunakan dalam pemantauan tersebut adalah Himawari-9.

Dilansir dari laman BMKG, Satelit Himawari-9 merupakan satelit cuaca geostasioner yang dioperasikan oleh Japan Meteorological Agency (JMA) atau Badan Meteorologi Jepang. Himawari-9 diluncurkan pada 2 November 2016 dan mulai beroperasi penuh pada 13 Desember 2022 sebagai satelit operasional utama, menggantikan Himawari-8.

Himawari-9 ditempatkan pada orbit geostasioner di posisi 140 derajat Bujur Timur. Dari posisi tersebut, satelit dapat memantau wilayah Asia-Pasifik, termasuk Indonesia. Satelit ini berada pada ketinggian sekitar 35.800 kilometer di atas permukaan Bumi sehingga dapat mengamati wilayah yang sama secara berulang.

Himawari-9 dilengkapi Advanced Himawari Imager (AHI), yakni sensor pencitraan multispektral yang memiliki 16 kanal spektral. Kanal tersebut mencakup cahaya tampak (visible), inframerah dekat (near-infrared), dan inframerah gelombang panjang (longwave infrared).

Data yang diperoleh dari Himawari-9 kemudian diolah menjadi berbagai produk citra satelit oleh BMKG. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mengamati perkembangan dan pergerakan sistem badai, pola awan, hingga fenomena atmosfer seperti abu vulkanik, kebakaran hutan, asap, dan aerosol.

Jenis-Jenis Produk Satelit Himawari-9

BMKG mengolah data Himawari-9 menjadi berbagai produk citra dengan fungsi yang berbeda. Produk-produk tersebut membantu pengamatan kondisi awan, kelembapan atmosfer, potensi hujan, hingga indikasi kebakaran hutan dan lahan.

Dilansir dari laman BMKG, berikut 10 jenis produknya:

1. Himawari-9 IR Enhanced


Sumber: BMKG

Produk Himawari-9 IR Enhanced digunakan untuk melihat suhu puncak awan berdasarkan radiasi pada panjang gelombang 10,4 mikrometer. Suhu puncak awan yang semakin dingin menunjukkan pertumbuhan awan yang semakin signifikan.

Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi perkembangan awan Cumulonimbus. Sementara itu, wilayah dengan suhu puncak awan yang lebih hangat menunjukkan pembentukan awan yang relatif sedikit atau kondisi yang lebih cerah.
 

2. Himawari-9 Visible


Sumber: BMKG

Produk Himawari-9 Visible digunakan untuk melihat reflektivitas radiasi pada panjang gelombang 0,65 mikrometer. Produk ini menggambarkan radiasi matahari yang dipantulkan oleh objek di permukaan maupun atmosfer.

Karena menggunakan cahaya matahari, citra visible hanya dapat digunakan pada siang hari dan tidak tersedia pada malam hari.
 

3. Himawari-9 Natural Color


Sumber: BMKG

Himawari-9 Natural Color menggunakan metode RGB dengan menggabungkan beberapa kanal data satelit untuk menghasilkan tampilan warna yang membantu mengidentifikasi kondisi awan.

BMKG memanfaatkan produk ini untuk mengamati proses konvektivitas, ketebalan awan, serta mikrofisika awan. Produk ini menggunakan kanal visible sehingga tersedia pada periode pagi hingga sore hari.
 

4. Himawari-9 Water Vapor Enhanced


Gambar: Himawari-9 Water Vapor Enhanced (sumber: BMKG)

Produk Water Vapor Enhanced digunakan untuk melihat kondisi kelembapan atmosfer pada lapisan menengah hingga atas. Produk ini memanfaatkan radiasi inframerah pada panjang gelombang 6,2 mikrometer.

Perbedaan warna pada citra dapat menunjukkan kondisi atmosfer yang lebih kering maupun lebih basah, di mana wilayah yang berwarna cokelat menunjukkan kondisi kering dan berwarna biru menunjukkan kondisi basah. BMKG juga memanfaatkannya untuk mengamati pergerakan massa udara kering dari Australia, terutama pada musim kemarau.
 

5. Himawari-9 Rainfall Potential


Gambar: Himawari-9 Rainfall Potential (sumber: BMKG)

Himawari-9 Rainfall Potential merupakan produk turunan yang digunakan untuk mengestimasi potensi curah hujan. Informasi yang dihasilkan dikelompokkan berdasarkan potensi intensitas hujan, mulai dari ringan hingga sangat lebat.

Produk tersebut menggunakan hubungan antara suhu puncak awan dan curah hujan yang berpotensi dihasilkan sehingga dapat membantu pemantauan potensi hujan dari citra satelit.
   

6. Himawari-9 Cloud Type


Gambar: Himawari-9 Cloud Type (sumber: BMKG)

Produk Cloud Type digunakan untuk mengidentifikasi jenis awan secara objektif dengan memanfaatkan data dari kanal inframerah dan visible.

Produk ini merupakan hasil kolaborasi penelitian BMKG dengan Japan Meteorological Agency (JMA) dan diperbarui setiap satu jam. Informasi jenis awan tersebut dapat digunakan untuk membantu analisis perkembangan kondisi atmosfer.
 

7. Himawari-9 Cloud Top Height


Gambar: Himawari-9 Cloud Top Height (sumber: BMKG)

Himawari-9 Cloud Top Height digunakan untuk mengidentifikasi ketinggian puncak awan berdasarkan data kanal inframerah. Produk ini memberikan gambaran mengenai ketinggian struktur awan yang terpantau di wilayah Indonesia dan diperbarui setiap satu jam.
 

8. Himawari-9 Convective Cloud


Gambar: Himawari-9 Convective Cloud (sumber: BMKG)

Produk Convective Cloud digunakan untuk mengidentifikasi awan konvektif berdasarkan data dari kanal inframerah dan visible Himawari-9. Produk tersebut membantu BMKG memantau keberadaan awan konvektif yang berpotensi berkaitan dengan perkembangan cuaca signifikan. Produk ini diperbarui setiap satu jam.
 

9. Himawari-9 RDCA


Gambar: Himawari-9 RDCA (sumber: BMKG)

Himawari-9 RDCA digunakan untuk mengidentifikasi awan Cumulus yang berpotensi berkembang menjadi awan Cumulonimbus dalam satu jam berikutnya. Produk ini membantu pemantauan pertumbuhan awan sehingga perkembangan awan konvektif dapat diamati dari waktu ke waktu.
 

10. Himawari-9 Geohotspot


Gambar: Himawari-9 Geohotspot (sumber: BMKG)

Selain pemantauan cuaca, data Himawari-9 juga dimanfaatkan untuk mengamati potensi kebakaran hutan dan lahan melalui produk Geohotspot.

Produk ini menggunakan data suhu kecerahan kanal inframerah untuk menyaring awan dan mengidentifikasi anomali suhu panas yang dapat menunjukkan potensi kebakaran hutan (titik merah). Citra pada kanal visible dan near infrared juga dapat digunakan untuk membantu mendeteksi sebaran asap.

(Siti Nahdia Usman)

(Riza Aslam Khaeron)