Gedung Putih Sebut Trump Hanya Bercanda soal Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Gedung Putih Sebut Trump Hanya Bercanda soal Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS

Willy Haryono • 15 August 2026 18:53

Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut hanya bercanda ketika mengatakan akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah perang dengan Iran berakhir.

Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat senior Gedung Putih kepada reporter Wall Street Journal Brian Schwartz, yang kemudian mengungkapkannya melalui media sosial X pada Jumat kemarin.

Schwartz mengatakan Trump belum pernah menggelar pertemuan dengan para penasihatnya untuk membahas rencana menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.

“Presiden Trump belum bertemu dengan para penasihatnya mengenai deklarasi Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dan sedang bergurau ketika menyampaikan pidatonya hari ini di New York,” ujar Schwartz, seperti dikutip dari Yeni Safak, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Schwartz hadir ketika Trump menyampaikan pidato di Nassau County Police Academy, Garden City, New York.

Dalam pidatonya, Trump mengatakan AS akan menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayahnya setelah berhasil mengalahkan Iran.

“Setelah kami selesai mengalahkan Iran, yang sedang dikalahkan dengan sangat buruk—dalam waktu dekat saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump.

Trump kemudian tertawa kecil seraya menambahkan, “Itu benar.”

Menurut Schwartz, Trump memang tertawa setelah mengucapkan pernyataan tersebut. Namun, setelah itu Trump justru tampak kembali menegaskan pernyataannya sebagai sesuatu yang serius.

Trump juga mengatakan Amerika Serikat telah memberlakukan blokade terhadap jalur strategis tersebut.

“Kami memiliki blokade. Tidak ada kapal yang bisa lewat kecuali kami menginginkannya,” ujar Trump.

Iran Tolak Klaim AS

Pernyataan Trump sebelumnya telah mendapat penolakan keras dari Iran. Pejabat militer Iran menyebut klaim Amerika Serikat mengenai kendali atas Selat Hormuz sebagai “kebohongan dan rekayasa yang tidak berdasar."

Teheran menegaskan bahwa Washington tidak memiliki kewenangan untuk menentukan akses pelayaran melalui jalur tersebut.

Data perusahaan analisis komoditas dan pelayaran Kpler yang dikutip CNN menunjukkan sekitar 3.371 kapal telah melintasi Selat Hormuz selama 166 hari sejak perang dimulai. Jumlah tersebut hanya sekitar 20 persen dari volume lalu lintas kapal sebelum perang.

Penurunan tajam lalu lintas kapal memperlihatkan dampak konflik terhadap salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur utama pengiriman minyak serta produk energi dari kawasan Teluk ke pasar global.

Perundingan AS-Iran Terhenti

Washington dan Teheran sebelumnya menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada April. Kedua negara kemudian menandatangani kesepakatan pada 17 Juni untuk memulai proses perundingan.

Namun, pembicaraan tersebut kemudian mengalami kebuntuan akibat perbedaan mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi.

Pada 8-24 Juli, Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer. Washington menyerang sejumlah target di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang fasilitas Amerika Serikat di Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Di tengah ketegangan tersebut, Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis utama dalam konflik. Setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan energi dan perdagangan global.

Pernyataan terbaru Gedung Putih bahwa Trump sedang bergurau menambah lapisan baru terhadap kontroversi tersebut. Hingga kini, belum ada indikasi bahwa pemerintah AS secara resmi menyiapkan langkah untuk mengklaim Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat.

Baca juga:  Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Bisa Direbut Trump dengan Tweet

(Willy Haryono)