Belum Ada Hasil, Namun AS dan Iran Sepakat Lanjutkan Perundingan

Delegasi AS dalam perundingan dengan Iran bersama dengan Menlu Oman. Foto: Anadolu

Belum Ada Hasil, Namun AS dan Iran Sepakat Lanjutkan Perundingan

Fajar Nugraha • 27 February 2026 09:20

Jenewa: Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Swiss dilaporkan mencapai kemajuan signifikan meskipun belum ada hasil signifikan.

Mediator internasional pada Kamis 27 Februari 2026 mengatakan, kedua pihak yang telah lama berseteru tersebut sepakat untuk melanjutkan pembahasan di Austria pada pekan depan guna mencegah pecahnya perang terbuka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa negosiasi telah memasuki pembahasan elemen perjanjian secara serius, baik di bidang nuklir maupun penghapusan sanksi.

"Putaran berikutnya kemungkinan akan berlangsung dalam kurang dari satu minggu, diawali dengan pembicaraan teknis di badan nuklir PBB di Wina pada hari Senin," ujar Araghchi melalui televisi pemerintah Iran, seperti dikutip Channel News Asia, Jumat, 27 Februari 2026.

Negosiasi yang dimediasi oleh Oman ini berlangsung di bawah tekanan tenggat waktu 15 hari yang diberikan Presiden Donald Trump kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan.

Sementara Iran bersikeras agar pembahasan hanya fokus pada program nuklir, Washington menuntut pembatasan pada program rudal balistik Teheran dan penghentian dukungan terhadap kelompok militan di kawasan.

Di saat diplomasi berjalan, AS tetap melanjutkan pengerahan militer terbesarnya di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Kehadiran kapal induk USS Gerald R. Ford dan USS Abraham Lincoln di kawasan tersebut menegaskan strategi Washington yang mengombinasikan tekanan militer masif dengan keterlibatan diplomatik.

Laporan internal menyebutkan tim negosiasi Trump menuntut Iran untuk membongkar tiga situs nuklir utamanya dan menyerahkan seluruh sisa uranium yang diperkaya kepada Amerika Serikat. Di sisi lain, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya sama sekali tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio memperingatkan bahwa penolakan Teheran untuk membahas senjata balistik tetap menjadi hambatan besar.

"Presiden menginginkan solusi diplomatik, namun masalah rudal ini adalah persoalan yang sangat besar," tegas Rubio.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, memuji adanya keterbukaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap ide-ide kreatif dari kedua belah pihak selama sesi perundingan. Partisipasi Ketua Nuklir PBB, Rafael Grossi, dalam pertemuan tersebut juga dipandang sebagai sinyal positif bagi pengawasan internasional.

Masyarakat internasional kini menaruh harapan pada putaran teknis di Wina pekan depan. Bagi warga Teheran, kesepakatan ini dipandang sebagai peluang untuk mengakhiri penderitaan ekonomi akibat sanksi dan menghindari kehancuran lebih lanjut akibat potensi konflik bersenjata.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)