GREAT Institute Sambut Baik Kesediaan Prabowo Jadi Mediator Israel-Iran

Presiden Prabowo Subianto. (BPMI Setpres)

GREAT Institute Sambut Baik Kesediaan Prabowo Jadi Mediator Israel-Iran

Willy Haryono • 28 February 2026 22:19

Jakarta: Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menawarkan diri menjadi mediator untuk menghentikan ketegangan usai Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang langsung dibalas Teheran di hari yang sama.

Kesediaan Pemerintah RI disampaikan Kementerian Luar Negeri melalui akun X @Kemlu_RI.

"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," tulis @Kemlu_RI.

Israel secara mendadak menyerang sejumlah pemukiman sipil Iran di Tehran dan Isfahan serta kota lain pada Sabtu pagi waktu setempat. Kantor pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menjadi salah satu fasilitas yang disasar dalam serangan itu.

Sementara sebuah asrama putri di Isfahan dilaporkan ikut hancur dan sejauh ini menewaskan puluhan siswi.

Serangan Israel dilakukan di tengah putaran ketiga pembicaraan damai AS dan Iran di Jenewa yang dimediasi Oman.

Tak lama setelah serangan itu, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan hak yang diatur dalam Pasal 51 Piagam PBN. Selain Tel Aviv, Iran menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Tawaran Mediasi

Mengenai sikap Pemerintah RI, Lembaga think tank GREAT Institute mendukung langkah Presiden Prabowo yang menawarkan diri menjadi mediator di antara Israel dan AS di satu pihak dan Iran di pihak lain. 

"Sayang sekali pembicaraan damai AS-Iran yang sehari sebelumnya dilaporkan mencapai kemajuan berarti mendadak rusak oleh serangan Israel," ujar Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, dalam keterangan pada Sabtu malam.

Ini membuktikan pemerintahan Benjamin Netanyahu punya kepentingan lain yang merugikan perdamaian kawasan juga membahayakan keselamatan warga Israel sendiri," sambungnya, merujuk pada Perdana Menteri Israel.

Teguh mengatakan, pembicaraan damai harus terus dilakukan. Metode dan pendekatan baru harus diaplikasikan, salah satunya dengan melibatkan Indonesia sebagai mediator. 

"Tidak ada yang lebih berharga dari perdamaian kawasan dan keselamatan umat manusia di seluruh dunia. Kami mengapresiasi kesediaan Presiden Prabowo mengajak kita semua terhindar dari kehancuran yang tak terkira," katanya lagi.

Teguh juga mengatakan serangan balasan Iran adalah upaya untuk "menyamakan" kedudukan, dan itu legal karena dijamin dalam Piagam PBB.

Setelah kedudukan disamakan, ia berharap terjadi penurunan ketegangan, dan pihak-pihak bertikai bersedia memulai kembali pembicaraan damai.

Baca juga:  Indonesia Tawarkan Mediasi Konflik usai Serangan AS-Israel ke Iran

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)