Ilustrasi. Foto: Dok. Antara.
Kemenkes: Indonesia Masih Nihil Kasus Konfirmasi Virus Nipah
Fachri Audhia Hafiez • 24 February 2026 15:10
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan kasus terkonfirmasi positif virus Nipah di Indonesia. Meskipun terdapat sejumlah laporan kasus suspek di berbagai daerah sejak 2024 hingga awal 2026, seluruh hasil pengujian laboratorium menunjukkan hasil negatif.
"Semua hasil labnya adalah negatif. Kita tahu penularannya itu kontak erat. Artinya, sebenarnya sudah disampaikan risikonya rendah, tapi artinya yang penting itu pencegahan," ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, dalam diskusi daring di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 24 Februari 2026.
Berdasarkan data Kemenkes, tercatat ada 16 kasus suspek yang dipantau selama periode tiga tahun terakhir. Untuk tahun 2026, terdapat dua laporan suspek masing-masing berasal dari Jawa Tengah dan Sulawesi Utara.
Sementara itu, pada 2025 tercatat sembilan kasus, dan lima kasus lainnya dilaporkan pada 2024. Adapun sebaran temuan suspek mencakup wilayah Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, hingga Kalimantan Barat.
Meski masih nihil kasus konfirmasi, Sumarjaya mengingatkan adanya sejumlah faktor risiko yang patut diwaspadai. Salah satunya adalah keberadaan kelelawar buah sebagai inang alami virus Nipah yang wilayah jelajahnya mencakup Indonesia.

Petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Semarang mengawasi suhu tubuh penumpang asal Malaysia dengan alat pemindai suhu tubuh digital setibanya di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (05/2/2026). ANTARA FOTO/Aji Styawan/foc.
Selain itu, kedekatan geografis dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina, serta tradisi konsumsi daging kelelawar di beberapa daerah menjadi perhatian serius.
Pemerintah kini fokus memperketat pintu masuk negara guna mengantisipasi transmisi virus. Langkah-langkah pencegahan di bandara dan pelabuhan terus ditingkatkan untuk memantau mobilitas pendatang yang berpotensi membawa risiko penularan.