Trump Sebut 'Armada Lain' Sedang Menuju ke Iran

Donald Trump. (EFE/EPA/GIAN EHRENZELLER)

Trump Sebut 'Armada Lain' Sedang Menuju ke Iran

Riza Aslam Khaeron • 28 January 2026 19:23

Washington DC: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan armada baru tengah bergerak menuju Iran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidatonya pada Selasa, 27 Januari 2026.

"Ada armada lain, sedang bergerak dengan indah menuju Iran sekarang. Saya harap mereka membuat kesepakatan," sebut Trump dikutip dari Times of Israel.

Pernyataan Trump muncul sehari setelah kapal induk USS Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perang pengiring dilaporkan tiba di wilayah Timur Tengah pada Senin, 26 Januari 2026. Belum jelas apakah Trump merujuk pada gugus kapal tersebut atau armada tambahan lain yang belum diungkap secara resmi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak menyusul tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi di negaranya, yang menyebabkan ribuan kematian.

Iran sendiri sebelumnya menyebut adanya saluran komunikasi antara Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff, meski kedua negara tak memiliki hubungan diplomatik resmi.

Namun, pada Rabu, 28 Januari 2026, Araghchi menyatakan kepada media pemerintah Iran bahwa "tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan untuk negosiasi dari pihak kami." Ia menambahkan bahwa "berbagai pihak perantara tengah melakukan konsultasi" dan bahwa posisi Iran sudah jelas.

"Negosiasi tidak bisa berlangsung seiring dengan ancaman. Pembicaraan hanya bisa dilakukan jika tidak ada lagi tekanan dan tuntutan berlebihan," ucap Araghchi.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyerukan agar Amerika Serikat memulai kembali dialog nuklir dengan Iran. Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, ia menilai bahwa menggabungkan seluruh isu ke dalam satu paket justru menyulitkan dan berisiko mempermalukan pihak Iran, serta menghambat proses diplomatik.
 

Baca Juga:
Tiba di Timur Tengah, Ini Sejarah dan Spesifikasi USS Abraham Lincoln

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengecam ancaman dari AS saat berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, menyebut bahwa langkah tersebut hanya akan menciptakan ketidakstabilan di kawasan.

Menanggapi situasi ini, Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan bahwa Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah atau wilayah udaranya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran.

Peringatan juga datang dari Deputi Politik Pasukan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, yang menyatakan bahwa negara-negara tetangga akan dianggap musuh jika wilayah mereka dimanfaatkan untuk menyerang Iran.

Situasi di Iran telah memburuk sejak gelombang protes meletus awal Januari 2026, disertai pemadaman internet hampir total. Laporan dari HRANA per 28 Januari 2026, menyebutkan bahwa sebanyak 6.126 orang telah dipastikan tewas, termasuk 5.777 pengunjuk rasa, dan lebih dari 17.000 kematian lainnya masih dalam penyelidikan.

Penangkapan massal juga terjadi, dengan lebih dari 41.000 orang dilaporkan ditahan.

Trump sebelumnya telah menyatakan bantuan sedang dalam perjalanan dan mengancam akan bertindak jika Iran mulai membunuh demonstran secara massal. Meskipun ancaman tersebut sempat dilunakkan setelah Iran dikabarkan membatalkan eksekusi terhadap para pengunjuk rasa, Trump menegaskan psi militer masih tetap terbuka.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)