Tiba di Timur Tengah, Ini Sejarah dan Spesifikasi USS Abraham Lincoln

USS Abraham Lincoln. (Wikimedia Commons)

Tiba di Timur Tengah, Ini Sejarah dan Spesifikasi USS Abraham Lincoln

Riza Aslam Khaeron • 27 January 2026 18:06

Jakarta: Kapal induk Amerika Serikat (AS) USS Abraham Lincoln (CVN-72) dilaporkan telah memasuki kawasan Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa "armada" tengah bergerak menuju wilayah tersebut.

Melansir CNN, pada Senin, 26 Januari 2026, dua sumber menyebutkan bahwa Abraham Lincoln Carrier Strike Group kini berada di Samudra Hindia dan telah masuk dalam wilayah tanggung jawab Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM).

USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk kelima dari kelas Nimitz dalam jajaran Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal ini adalah salah satu kapal perang terbesar di dunia, yang berfungsi sebagai pusat operasi udara bergerak.

Kapal induk kelas Nimitz dirancang untuk mendukung dan mengoperasikan pesawat-pesawat tempur untuk menyerang target di udara, laut, maupun darat yang mengancam kebebasan navigasi laut, sekaligus menjalankan operasi proyeksi kekuatan secara berkelanjutan dalam mendukung pasukan AS dan koalisi.

Lantas, seberapa canggih kapal kebanggaan Negeri Paman Sam ini? Berikut spesifikasinya.
 

Sejarah USS Abraham Lincoln 


USS Abraham Lincoln tahun 1989. (Instagram/@usnhistory)

USS Abraham Lincoln dibangun di Newport News, Virginia, dengan peletakan lunas pada 3 November 1984. Kapal ini dikristenkan kurang dari empat tahun kemudian dan resmi dioperasikan (commissioned) pada 11 November 1989 di Norfolk, Virginia.

Setelah menjalani uji coba pelayaran (shakedown) dan penerimaan (acceptance trials), kapal berangkat dari Norfolk pada September 1990, berlayar mengelilingi Amerika Selatan, dan tiba di Alameda, California.

Penugasan besar pertamanya terjadi pada Mei 1991 sebagai respons terhadap krisis Kuwait pascaaneksasi oleh Irak. Namun, kapal dialihkan untuk mendukung evakuasi besar-besaran akibat erupsi Gunung Pinatubo di Filipina dalam Operasi Fiery Vigil.

Operasi ini menjadi salah satu evakuasi masa damai terbesar dalam sejarah militer AS, dengan lebih dari 45.000 orang dievakuasi dari Subic Bay menuju Pelabuhan Cebu. Setelah itu, kapal melanjutkan pelayaran ke Teluk Arab dan mendukung operasi udara selama tiga bulan di atas Kuwait dan Irak dalam Operasi Desert Storm.

Dalam dekade 1990-an, USS Abraham Lincoln rutin beroperasi di kawasan Teluk. Pada Juni 1993, kapal mendukung Operasi Southern Watch untuk menegakkan zona larangan terbang di Irak selatan.

Lalu pada Oktober 1993, kapal diperintahkan ke perairan Somalia guna mendukung operasi kemanusiaan PBB, termasuk patroli udara selama sebulan di atas Mogadishu dalam Operasi Restore Hope.


Foto: www.pacom.mil

Pada April 1995, kapal kembali ke Teluk Arab untuk misi Southern Watch dan Vigilant Sentinel, sebelum menjalani perbaikan menyeluruh (overhaul) di Bremerton selama setahun, dan kemudian berpangkalan di Everett sejak 8 Januari 1997.

Pada Agustus 2000, kapal menjalani penugasan selama lebih dari 100 hari di kawasan Teluk dalam rangka Southern Watch dan operasi interdiksi maritim. Lalu pada periode Juli 2002 hingga Mei 2003, Abraham Lincoln mendukung Operasi Enduring Freedom, Southern Watch, dan Operasi Iraqi Freedom.

Penugasan ini juga dikenal karena dikunjungi oleh Presiden George W. Bush di atas kapal. Selanjutnya, pada Oktober 2004 hingga Maret 2005, kapal dialihkan ke wilayah Asia Tenggara untuk mendukung bantuan kemanusiaan pascatsunami melalui Operasi Unified Assistance.

Setelah periode latihan dan operasi di Pasifik—termasuk partisipasi dalam RIMPAC 2006—USS Abraham Lincoln kembali bertugas dalam Operasi Enduring Freedom dan Operasi Iraqi Freedom pada akhir 2007 hingga Oktober 2008.

Kapal kemudian bersiap menjalani pemeliharaan besar Refueling and Complex Overhaul (RCOH). Ia diberangkatkan pada Desember 2011 menuju Norfolk untuk memulai fase RCOH, tiba pada 7 Agustus 2012, dan resmi menjalani proses RCOH di Newport News Shipbuilding dari 28 Maret 2013 hingga 15 Agustus 2017. Sejak saat itu, kapal beroperasi dari pangkalan di Norfolk, Virginia.

Baca Juga:
Intel AS Sebut Pemerintahan Iran Berada di Titik Terlemah Sejak Revolusi 1979
 

Spesifikasi Teknis USS Abraham Lincoln


Foto: Wikimedia Commons

USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk bertenaga nuklir dari kelas Nimitz, dengan desain dan dimensi yang memungkinkan proyeksi kekuatan udara dan laut dalam skala besar.

Berikut rincian spesifikasi teknisnya berdasarkan informasi dari Angkatan Laut Amerika Serikat:

  • Panjang total: 1.092 kaki (332,85 meter)

  • Lebar lambung (beam): 134 kaki (40,84 meter)

  • Lebar geladak penerbangan: 252 kaki (76,8 meter)

  • Bobot benaman penuh (displacement): Sekitar 97.000 ton

  • Kecepatan maksimum: Lebih dari 30 knot (±55,5 km/jam)

  • Propulsi: Dua reaktor nuklir yang menggerakkan empat poros (four shafts)

  • Kru kapal: Sekitar 3.200 personel

  • Kru sayap udara (air wing): Sekitar 2.480 personel

  • Total awak secara keseluruhan: ±5.680 personel

  • Kapasitas pesawat: ±65 unit pesawat (jenis dan jumlah bisa bervariasi tergantung misi)

  • Persenjataan pertahanan:

    • Sistem peluru kendali NATO Sea Sparrow

    • Sistem pertahanan jarak dekat Phalanx CIWS

    • Peluncur rudal Rolling Airframe Missile (RAM)

  • Estimasi biaya pembangunan (unit cost): ±US$4,5 miliar

Desain kapal ini memungkinkan operasi penerbangan berkapasitas tinggi dengan sistem pelontar (catapult) dan penahan (arresting gear), serta ketahanan tinggi di laut karena tenaga nuklir yang memungkinkannya berlayar selama lebih dari dua dekade tanpa pengisian ulang bahan bakar.

Kombinasi ini menjadikan USS Abraham Lincoln sebagai salah satu kapal induk paling strategis dalam armada Angkatan Laut AS.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)