Kapal Korea Selatan Masih Jalani Perbaikan di Selat Hormuz usai Terkena Serangan

Aktivitas kapal di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Kapal Korea Selatan Masih Jalani Perbaikan di Selat Hormuz usai Terkena Serangan

Willy Haryono • 1 July 2026 16:13

Seoul: Kementerian Kelautan Korea Selatan pada Rabu, 1 Juli 2026, menyatakan bahwa kapal kargo Namu yang dioperasikan HMM diperkirakan baru dapat keluar dari Selat Hormuz paling cepat pada pertengahan Juli.

Kapal tersebut masih menjalani perbaikan setelah mengalami kerusakan akibat serangan pada Mei lalu.

Lambung kapal di bagian buritan rusak akibat serangan yang menurut hasil penyelidikan awal Seoul kemungkinan melibatkan rudal antikapal Iran. Pemerintah Korea Selatan sempat memanggil Duta Besar Iran, Saeed Koozechi, untuk menyampaikan hasil penyelidikan sekaligus melayangkan protes.

Namun, Koozechi membantah keterlibatan Iran dalam insiden tersebut. Pemerintah Korea Selatan kemudian menyatakan belum dapat memastikan pihak yang bertanggung jawab maupun apakah serangan itu dilakukan secara sengaja.

Wakil Menteri Kelautan Korea Selatan Nam Jae-heon mengatakan saat ini masih terdapat dua kapal yang tertahan di Selat Hormuz, termasuk Namu, dengan total 35 awak di dalamnya.

"Sebanyak 21 kapal yang dioperasikan Korea Selatan telah melintasi Selat Hormuz dengan aman sejak Washington dan Teheran menandatangani gencatan senjata dua pekan lalu," kata Nam, dikutip dari media Asiaone, Rabu, 1 Juli 2026.

Biaya perbaikan kapal ditanggung oleh HMM. Perusahaan tersebut juga memastikan akan mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi untuk menutup biaya kerusakan yang dialami kapal.

Pemerintah Korea Selatan belum memutuskan apakah akan meminta Iran atau Amerika Serikat menanggung biaya perbaikan kapal. Nam mengatakan kemungkinan tersebut akan dipertimbangkan lebih lanjut tanpa memberikan rincian tambahan.

Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian global. (Keysa Qanita)

Baca juga: Tolak Tarif Selat Hormuz, Oman Terbuka soal Biaya Layanan Maritim Sukarela

(Willy Haryono)