Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus USD100/Barel
Husen Miftahudin • 24 July 2026 08:24
Houston: Harga minyak dunia melonjak lebih dari enam persen pada perdagangan Kamis. Minyak mentah Brent bahkan kembali menembus level psikologis USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Peristiwa tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam serangan tersebut dan memperingatkan akan adanya respons militer apabila aksi serupa kembali terjadi.
Mengutip Investing.com, Jumat, 24 Juli 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September melonjak 7,4 persen menjadi USD101,08 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September naik 6,8 persen menjadi USD92,75 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, yang kembali meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi.
Pasar cermati risiko pasokan minyak
Reli harga minyak sepanjang bulan ini juga dipengaruhi kegagalan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) antara Washington dan Teheran. Kondisi tersebut memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi global.
Salah satu indikatornya terlihat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, seiring aksi jual obligasi oleh pelaku pasar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 4,4 basis poin menjadi 4,704 persen.
Adapun, kelompok Houthi menyatakan serangan terhadap kapal tanker Arab Saudi dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran blokade maritim yang mereka umumkan sebelumnya.
Hingga kini, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi adanya kerusakan pada kapal tanker tersebut. Namun, insiden tersebut kembali menyoroti risiko gangguan distribusi energi melalui Laut Merah.
Sebelumnya, Houthi juga menyatakan akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi melintasi Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi terpenting yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Pelabuhan Yanbu di Arab Saudi selama beberapa bulan terakhir menjadi pusat ekspor minyak mentah setelah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, kapal tanker yang berangkat dari pelabuhan tersebut tetap harus melewati Selat Bab el-Mandeb.
Apabila jalur tersebut tidak dapat digunakan, kapal harus memutar melalui Afrika bagian selatan, sehingga memperpanjang waktu pelayaran dan meningkatkan biaya pengiriman. Perusahaan pelacak pelayaran Kpler menilai jalur ekspor alternatif Arab Saudi kini menghadapi ujian baru.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Trump ancam respons militer
Presiden AS Donald Trump mengecam serangan Houthi melalui unggahan di media sosial. Trump menyebut Houthi sebelumnya sempat menghentikan serangan terhadap jalur perdagangan internasional setelah operasi militer AS. Namun, menurutnya, kelompok tersebut kembali menyerang kapal tanker Arab Saudi.
Trump juga memperingatkan Iran akan dimintai pertanggungjawaban apabila Houthi kembali melakukan serangan terhadap jalur pelayaran internasional.
Di tengah meningkatnya ketegangan, militer AS dilaporkan kembali melancarkan operasi terhadap Iran, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim terjadi insiden di jalur pelayaran dekat Selat Hormuz yang menyebabkan satu kapal tanker terbakar dan dua kapal lainnya berbalik arah.
Iran juga menegaskan pengawasan terhadap Selat Hormuz tetap berlangsung dan menyatakan kapal tanker minyak harus berkoordinasi dengan otoritas setempat sebelum melintas.