Gedung Kongres AS di Capitol Hill, Washington. (Anadolu Agency)
Senat AS Loloskan Resolusi Baru, Trump Tak Bisa Lagi Sembarangan Serang Iran
Willy Haryono • 24 June 2026 16:38
Washington: Senat Amerika Serikat menyetujui resolusi War Powers yang mengharuskan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri permusuhan terhadap Iran, kecuali jika terdapat otorisasi lebih lanjut dari Kongres.
Resolusi yang sebelumnya telah disahkan oleh DPR AS tersebut lolos di Senat dengan perolehan suara 50 berbanding 48 pada Selasa kemarin.
Usulan itu diperkenalkan oleh anggota DPR dari Partai Demokrat Gregory Meeks, yang juga menjabat sebagai anggota senior Komite Urusan Luar Negeri DPR.
Dikutip dari Anadolu, Rabu, 24 Juni 2026, empat senator Partai Republik, yakni Bill Cassidy, Susan Collins, Lisa Murkowski, dan Rand Paul, bergabung dengan Demokrat untuk mendukung resolusi tersebut.
Sementara itu, Senator Demokrat John Fetterman memilih menolak resolusi, sedangkan dua senator Partai Republik, Mitch McConnell dan Dave McCormick, tidak memberikan suara.
Dampak Praktis Terbatas
Secara praktis, dampak resolusi tersebut diperkirakan terbatas karena Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai sementara dan saat ini sedang menjalani masa negosiasi selama 60 hari.Namun demikian, pengesahan resolusi tersebut dipandang sebagai bentuk penolakan politik paling kuat dari Kongres terhadap perang dengan Iran setelah sembilan upaya pemungutan suara sebelumnya gagal memperoleh dukungan mayoritas sederhana di Senat.
Pemungutan suara dilakukan kurang dari sepekan setelah pemerintahan Trump mengumumkan adanya kesepahaman sementara dengan Iran untuk menghentikan permusuhan sembari melanjutkan pembicaraan menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Presiden Trump mengecam pengesahan resolusi tersebut dan menilai langkah Senat justru melemahkan posisi negosiasi Amerika Serikat terhadap Iran.
“Jadi, saya sudah membuat Iran berada di ujung tanduk, siap menyerah, dan bersedia memberikan hampir apa saja kepada kita,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Trump mengatakan Iran kini menunjukkan sikap yang lebih menghormati Amerika Serikat dan pemerintahannya dibandingkan sebelumnya.
Ia menyebut resolusi yang disahkan Senat sebagai langkah yang "tidak tepat waktu dan tidak berarti" serta menuduh para anggota parlemen mengirimkan sinyal yang salah pada saat negosiasi sedang berlangsung.
Presiden AS itu juga secara khusus mengkritik empat senator Partai Republik yang mendukung resolusi tersebut dan menyebut mereka telah memberikan keuntungan politik kepada musuh Amerika Serikat.
“Mereka membuat pekerjaan saya menjadi lebih sulit. Namun saya akan menyelesaikannya dengan satu atau lain cara karena saya selalu berhasil menyelesaikannya,” tulis Trump.
Negosiasi Iran-AS Berlanjut
Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan operasi militer terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan terhadap aset-aset Amerika Serikat di Timur Tengah.Permusuhan akhirnya dihentikan melalui gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dan mulai berlaku pada 8 April.
Pada 17 Juni, Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) yang menjadi dasar perundingan menuju kesepakatan damai jangka panjang.
Saat ini kedua negara sedang menjalani negosiasi teknis selama masa gencatan senjata 60 hari untuk menyelesaikan sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran, pencabutan pembatasan ekonomi, serta normalisasi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz.
Washington dan Tel Aviv menuduh Iran mengembangkan program nuklir dan rudal yang mengancam keamanan kawasan. Namun Teheran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk tujuan damai.
Baca juga: Sering Ditipu, Iran Sebut Negosiasi Bergantung Pada Komitmen AS